dreamnicer version 1.0
Showing posts with label Telaah. Show all posts
Showing posts with label Telaah. Show all posts
18 April 2008

“Selamat Jalan Tuan Presiden”

Oleh Gusriyono


Gabriel Garcia Marquez, sastrawan Amerika Latin dalam cerpennya yang dterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Selamat Jalan Tuan Presiden, pernah bercerita tentang hari-hari terakhir seorang presiden yang pernah digulingkan dari kursi kekuasaannya. Dimana setiap sore Si Presiden duduk dibangku taman yang didepannya terdapat sebuah kolam tempat angsa bermain. Tidak ada yang menghiraukannya, semua orang seakan tak peduli bahkan berusaha untuk tidak mengenalnya. Begitulah ia menghabiskan sorenya di taman itu, menikmati sisa usianya. Kesepian orang besar yang dulu sangat berwibawa dan berkuasa.


Soeharto—anak petani Desa Kemusuk yang kemudian memimpin bangsa ini, barangkali—setelah lengsernya—mengalami juga kesepian seperti itu. Kesepian seorang penguasa dalam lalu-lalang pujian dan hujatan orang banyak, namun tetap tersenyum dengan lambaian tangan yang sama. Selama tiga puluh dua tahun menjalani rutinitas sebagai kepala negara dengan program pembangunan nasionalnya, Suharto telah memberi banyak warna dalam pembangunan bangsa ini. Semua orang mengaguminya dan tak jarang berusaha untuk menjadi orang terdekatnya. Namun ketika ia menarik diri dari kursi kepemimpinan, jadilah ia si penikmat sepi dalam usia yang kian uzur dalam deraan hujatan dan tuntutan.


Memang, adakalanya seperti pohon beringin tua di Pantai Padang yang beberapa waktu lalu tumbang. Pohon berumur ratusan tahun tersebut—yang tidak bisa ditebang dan tidak seorangpun berani mengganggunya, ketika telah tumbang siapa saja berani menaikinya termasuk katak yang hobinya meloncat-loncat pun berani bersuara diatas pohon rebah tersebut. Ketika sebuah kekuasaan dilepaskan dari diri kita, maka semuanya berbalik, keberpihakan menjadi ketidakberpihakan, kawan menjadi lawan dan sebagainya. Bahkan setiap orang seolah punya hak untuk menghujat dan menuntut pertanggung jawaban. Kadang dalam hiruk-pikuk persoalan tuntut menuntut tersebut, sumbangsih dan jasa sering terlupakan.


Namun, hal menarik dalam cerpen (baca; Selamat Jalan Tuan Presiden) Marquez tersebut, bagaimana Si Presiden menjadi bahan perdebatan penuh emosi antara suami dan istri dalam sebuah keluarga—tempat Si Presiden sering berkunjung. Dalam perdebatan tersebut Si Suami lebih membela Si Presiden sedangkan Si Istri lebih banyak mengkritisi dan menghujat Presiden tersebut. Suatu penggambaran yang sangat kontras sekali sebenarnya, keterwakilan antara yang membela dengan yang menghujat. Pihak yang membela digambarkan sebagai sosok lelaki, suami—kepala rumah tangga yang mempunyai wilayah kekuasaan. Sementara pihak yang mengkritisi atau menghujat diwakili oleh sosok perempuan, istri—pasangan kepala rumah tangga yang harus tunduk dan patuh kepada suami. Mungkin seperti itu jugalah penggambaran terhadap kebijakan-kebijakan Soeharto, yang kemudian di masa pensiunnya menjadi kasus dan meminta pertanggung jawaban. Sebab, walau bagaimanapun tidak semua kebijakan-kebijakannya memihak kepentingan orang banyak. Ada bagian-bagian dimana ia tampil sebagai otoriter dan bergaya Machiavelli. Niniek L. Karim dan Bagus Takwin (Kompas, 5 Mei 2000) mengatakan bahwa, seorang dengan kepribadian Machiavellian dan otoritarian, dengan latar belakang deprivasi beberapa kebutuhan dasar di masa kecil yang menetap sehingga cenderung membuatnya melakukan over kompensasi, bila memiliki juga kecerdasan yang tinggi, didukung kesempatan dan kondisi lingkungan, bisa menjadi pemimpin yang terlalu berkuasa. Kekuasaannya bisa mengarahkan dia menjadi seorang diktator, melakukan tindakan tirani.


Saat Si Presiden tidak lagi berkunjung ke keluarga tersebut, pasangan suami istri itu merasa ada yang hilang dari hidupnya. Tidak ada lagi perdebatan yang emosional waktu itu. Serupa Soeharto, yang menggenapkan usianya di titik 13:40 WIB, 27 Januari lalu. Semuanya kehilangan sosok yang selama ini penuh kontroversial. Orang-orang menundukkan kepala memberi penghormatan yang terakhir lengkap dengan isak tangis. Sesuai dengan filosofinya, kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan. Maka, bahambauanlah sekalian orang mengantar jenazah ke pandam pakuburan, tak kurang jua sedekah kaji dan zikir serta doa-doa mohon kelapangan jalan bagi almarhum menujuNya. Permintaan maaf terhadap kesalahan-kesalahan almarhum juga dimohonkan ahli waris. Bahkan negara menetapkan sebagai hari berkabung nasional yang ditandai dengan menaikkan bendera setengah tiang selama tujuh hari.


Sementara waktu, semua orang tertuju pada perkabungan dan pengenangan terhadap jasa-jasa almarhum, namun masih ada juga yang mempersoalkan dosa-dosa terhadap kesalahan yang barangkali tidak bisa dimaafkan secara lahir. Pertanyaannya, sebegitu pentingkah hal-hal tersebut dibaca saat tanah perkuburan masih merah, ketika hujan air mata masih menderas dan kabut duka masih menyelimuti.


Barangkali kita perlu mengarifi bersama apa yang sering disampaikan ahli waris dari orang yang meninggal dunia ketika kita pergi ta’ziah di kampung-kampung.

Nyampang ado nan indak bisa dikarilahan

Kok utang rokok nan babatang

Kok salang bareh nan bagantang

Kok tenggang pitih nan babilang

Lah taduah hujan, lah tarang kabuik

Datanglah kapado kami ahli warih almarhum

Disini termaktub bahwa ada waktunya—lah taduah hujan, lah tarang kabuik—disaat mana kita harus datang dengan persoalan-persoalan yang mungkin harus diselesaikan secara aturan atau hukum yang berlaku. Pemahaman pada filosofi seperti ini telah mengajarkan kita untuk bersikap bijak dalam menghargai kematian seseorang.

Ditaman, orang-orang tidak melihat lagi Tuan Presiden duduk dibangku menikmati sore sembari menyaksikan angsa-angsa bermain dikolam. Selamat Jalan Tuan Presiden!



Penulis, bergiat di Rumah Kreatif Kandangpadati serta Ranah Teater di Padang.


Read more....
(0 comments at js-kit.com)
09 February 2008

Menyibak Tirai "Hujan Bulan Juni' Sapardi Djoko Damono

Oleh: Lia Octavia

Puisi, menurut kamus Wikipedia Indonesia, berasal dari bahasa Yunani kuno poieo/poio yang berarti I create atau saya menciptakan. Adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain aerti semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rhyme adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan karena beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagia jenis literature tetapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.

Sedangkan penyair adalah seseorang yang menulis/mengarang karya puisi. Karya ini biasanya dipengaruhi oleh tradisi budaya dan intelektual dan ditulis dalam suatu bahasa tertentu. Beberapa kalangan menganggap bahwa puisi yang terbaik memiliki ciri-ciri yang luas, tidak lekang oleh waktu dan memiliki gambaran umum bagi seluruh umat manusia. Kalangan lainnya lebih mementingkan kualitas dari fakta dan keindahan yang terkandung dalam puisi tersebut.

Salah satu penyair besar Indonesia yang dikenal luas adalah Sapardi Djoko Damono. Dilahirkan di Solo, 20 Maret 1940 dan di tempat itu pula ia menghabiskan masa-masa indah dari kanak-kanak hingga dewasa. Pertama kali menulis puisi pada kelas 2 SMA dan sebagian besar masa mudanya diabdikan pada berbagai kegiatan kesenian, diskusi sastra, membaca puisi, siaran sastra di RRI Yogya dan Solo, menyutradarai pementasan drama, main musik dan sebagainya. Sajaknya pertama kali dimuat di ruangan kebudayaan tabloid Pos Minggu, Semarang, tahun 1957. Sejak itu, para penikmat puisi dapat menjumpai puisi-puisinya di berbagai media. Pada tahun 1986, tiga buah esai dan sejumlah sajaknya diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang sebagai salah satu penerbitan sastra dunia. Sejak itu, sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Perancis, Urdu, Hindi, Jerman dan Arab, serta diterbitkan dalam berbagai bunga rampai dan majalah di Negara-negara tersebut.

Hujan Bulan Juni – Sepilihan Sajak terbitan Grasindo, adalah kumpulan sajak-sajak yang ditulisnya dalam rentang waktu 30 tahun, antara 1964 sampai dengan 1994. Puisi-puisi yang ditulisnya banyak diilhami dan tentang manusia; pengalaman mereka, perasaan mereka, karakter mereka dan tentu saja, cinta. Puisi-puisinya yang peka dan melarutkan jiwa-jiwa bercita rasa tinggi ke dalamnya.

Seperti penuturannya tentang suasana malam di Solo yang tertuang dalam puisinya yang berjudul "Pada Suatu Malam" sebagai pembuka kumpulan sajaknya. Tempat di mana ia lahir dan menghabiskan hampir sebagian besar masa-masa mudanya di Solo. Ia bertutur tentang kematian, kesadaran akan waktu hidup di dunia fana ini yang hanya sebentar dan kenangan yang ditinggalkan seseorang yang sudah meninggal dalam "Tentang Seorang Penjaga Kubur Yang Mati", "Saat Sebelum Berangkat", "Berjalan Di Belakang Jenazah", "Sehabis Mengantar Jenazah", "Lanskap" dan "Ziarah". Simak saja tuturnya mengenai umur manusia sebagai berikut:

Sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua
Waktu hari hampir lengkap, menunggu senja
Putih, kita pun putih memandangnya setia
Sampai habis semua senja

Ketergantungannya pada Sang Pencipta juga menghasilkan puisi-puisi dari perjalanan perenungannya setiap hari; "Dalam Doa I", "Dalam Doa II", "Dalam Doa III", "Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka". Kesadaran betapa ringkihnya jiwa manusia yang awalnya seharum bunga lalu kemudian dapat terjebak dalam nafsu manusiawi yang risau. Di saat kata-kata melebur menjadi cahaya dan berucap doa pada pertemuan dengan Sang Cinta di heningnya malam.

Cinta, ilham yang selalu tak habis-habisnya digali dan bertaburan dalam bait-bait puisinya. Cinta yang sederhana, yang tak pernah mengharap balasan dan kerap kali menjadi ikon bahasa cinta anak-anak muda terlukis dengan indah, mendalam, menggetarkan jiwa dan tentu saja sederhana dalam "Aku Ingin":

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Rasanya lidahpun kelu dan hanya kedalaman rahasia hati insani yang mampu mengomentari puisi indah ini. Begitu pula ungkapan hatinya dalam doa untuk orang yang tercinta pada "Dalam Doaku":

…aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu…

Sederhana dan menusuk jiwa. Juga puisi-puisinya yang melukiskan agungnya pernikahan, gambaran kesempurnaan insani dalam agama-Nya dalam "Pertemuan" dan "Sajak Perkawinan":

… perkawinan tak dimana pun, tak
kapan pun
kelopak demi kelopak terbuka
malam pun sempurna

Kehidupan dunia yang bak panggung sandiwara inipun tak lepas mengilhami Sapardi untuk menggubah bulir-bulir nyanyian opera menjadi kata-kata penuh makna yang mengejek dunia. Seperti dalam puisinya "Sandiwara I", "Topeng" dan "Sandiwara 2" yang ditulisnya untuk Yudhis dan Putu Wijaya serta:

…bahkan ketika suaranya terdengar semakin serak dan lampu
semakin redup – kursi itu tetap bergoyang. Kita, penonton,
harus pulang sebelum sempat lagi ketawa.

Begitu juga ungkapan tentang jarak dan waktu dalam pencarian jati diri yang tak lekang dilarung waktu dalam "Sonet:Y", "Jarak", "Sonet:X" dan "Yang Fana Adalah Waktu":

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu. Kita abadi.

Hujan, yang merupakan tema yang diambil Sapardi dalam bukunya ini, tak pelak lagi menghujani halaman-halaman rumah dunianya. Simak saja dalam "Hujan Dalam Kompisisi, I", "Hujan Dalam komposisi, 2", "Hujan dalam Kompisisi, 3", "Percakapan Malam Hujan" dan "Hujan Bulan Juni" yang umumnya menggambarkan personifikasi luruhnya hujan untuk menyuburkan ranah-ranah kehidupan:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yangtak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Terlepas dari genre, antara ambiguitas dan konvensi puisi, struktur, pemilihan diksi dan kosa kata yang digunakannya, melebur ke dalam jiwa karya-karya Sapardi adalah suatu petualangan yang unik, menambah warna warni pelangi wawasan, menikmati kebebasannya dalam berkata-kata, meresapi renungan-renunganny a dan relasinya dengan Sang Maha Kuasa serta bagaimana menghargai hidup bersama esensinya dengan tanpa khawatir untuk mengawali perubahan itu sendiri. Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini yang terjadi, yang terbuat dan yang terjejak adalah mata air pelajaran yang penuh hikmah dan tidak ada yang sia-sia.

hujan turun semalaman
paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

Seperti yang dikatakan seorang sahabat kepadaku, "Tenggelam dalam puisi adalah keniscayaan. " Dan niscaya setelah tenggelam dalam hujan bulan juni, rangkaian kisah hidup terkuak, tirai-tirai hujan kehidupan tersibak, hingga akhirnya kita meretas menjadi cahaya di persinggahan sementara ini dalam perjalanan menuju keabadian di dalam birunya samudera jiwa.


Read more....
(0 comments at js-kit.com)

Gairah Kesusastraan di Sumatra Barat

Beberapa bulan ke depan, (dengar-dengar kabar) Sumatra Barat rencananya akan menjadi tuan rumah dari "Temu Sastra 5 Kota (Padang, Bali, Bandung, Yogyakarta dan Lampung)"--sebelumnya 4 kota minus Lampung. Kabar ini tidak main-main, elemen kesusastraan terkait seperti Taman Budaya, DKSB, dan komunitas-komunitas sastra sudah bergerak demi tercapainya kesempurnaan acara tersebut.

Perjalanan kesusastraan di Sumatra Barat jika dilihat dengan mata telanjang memang terus-menerus bergerak. Regenerasi penulis-penulis tak ada hentinya, menjadikan Sumatra Barat lahan subur bagi lahirnya bibit-bibit sastrawan. "Semangat dan kontinuitas adalah modal penting jika ingin jadi penulis" begitu yang tampaknya diyakini oleh generasi sastra di wilayah yang juga sering disebut sebagai Minangkabau.

Tetapi, masih ada yang perlu dikritisi dan dibenahi. Tulisan Muhammad Subhan di Kabar Indonesia mungkin bisa menjadi referensi tentang apa yang mesti dibenahi itu.

Yang sedang saya "tafakuri" saat ini-tepatnya beberapa tahun terakhir-adalah fenomena keringnya kualitas cerpen-cerpen yang dilahirkan penulis Sumatra Barat untuk koran di daerah sendiri. Bahkan yang lebih kering lagi, adalah minimnya kritik sastra untuk cerpen-cerpen yang muncul di sejumlah koran terbitan Padang.


Kalimat berhuruf tebal di atas itulah yang perlu dibenahi oleh elemen sastra di Sumbar. Apakah cerpen-cerpen (karya sastra lain) yang terbit di Padang memang sebegitu sampahnya hingga tak layak untuk diapresiasi? Atau, apakah yang menulisnya bukan penulis besar seperti Gus Tf, Iyut, Yusrizal KW, Harris Efendi Thahar dll.? Atau, koran-koran di Padang yang dianggap tidak berkualitas?

Apa yang ditulis oleh Muhammad Subhan juga yang saya pertanyakan kepada elemen sastra di Sumbar. Tentu daftar ini masih akan panjang jika ditambahkan dengan miskinnya proyek buku sastra yang dijalankan. Kalau memang ada, terbatas pada penulis-penulis senior. Kadang-kadang saya berpikir, penulis muda Sumbar memang banyak tetapi tak (kurang) difasilitasi. Jikalau ada fasilitas itu, hanya sekedar perpanjangan tangan dari ide-ide si pemberi fasilitas. Penulis muda pun mandul berkreativitas karena otaknya telah dijajah oleh ide-ide si fasilitator.

Kurang produktifnya cerpenis-cerpenis Sumbar di "kampoeng" sendiri, menurut hemat saya, karena masih rendahnya penghargaan koran terhadap karya-karya mereka. Penghargaan yang saya maksud, mungkin secara finansial sebagai input "kerja keras" mereka. Melalui esai ini, saya merasa risih menyebut berapa jumlah honor yang akan diterima penulis untuk setiap cerpen yang dipublikasikan di koran bersangkutan. Artinya, honor untuk cerpenis Sumatra Barat di daerah sendiri masih sangat rendah.


Sebenarnya riskan membicarakan permasalahan ini. Salah-salah langkah bisa di-cap Kapitalis. Dan penulis muda, kebanyakan anti kapitalis. Saya membenarkan apa yang disebut Subhan dengan "input kerja keras". Media di Padang memang belum serius menanggapi keseriusan para penulisnya. "Batu loncatan" adalah esensi yang diyakini sebagian besar penulis. Hal ini sudah jadi rahasia umum di kalangan media tersebut maupun penulis-penulis.

Oleh karena itu, apakah kesusastraan Sumbar akan tetap dibiarkan seperti ini saja?


Read more....
(0 comments at js-kit.com)
08 January 2008

Sastra, Metafora dalam Dunia(nya)

ADALAH kekeliruan ketika orang-orang menyebut sastra, dunia yang penuh dengan kesunyian, dunia yang menyepi sendiri. Sastra penuh dengan keramaian, penuh dengan keriuhan. Yang dianggap sunyi itu mungkin proses dari penciptaan karya sastra, di mana seseorang (di antara ribuan) sastrawan menciptakan karya dengan membangun dunianya sendiri. Dunia yang terpaksa disepikan untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi pembacanya.

Sejarah perkembangan kesusastraan (baca; dunia sastra) di Indonesia telah panjang. Sejarah yang ingin selalu meraih kebebasannya sendiri, mendapatkan tempatnya sendiri, dan menolak segala pengekangan terhadap sebuah proses. Itu merupakan hal yang lazim. Menciptakan sebuah karya akan baik jika proses itu terbangun jauh dari pengekangan terhadap ide.

Sastra merupakan jawaban dari sekian banyak kesakitan, jawaban kesenangan, cinta, dunia, perang, mimpi, dan segala hal yang menyangkut rasa. Tidak salah jika Arif bagus Prasetyo (2005:104) menyatakan serupa ini tentang sastra di Indonesia—perspektif terhadap seorang penyair: atas nama sebentuk peradaban impian nan gemilang di masa depan, sejarah hadir sebagai suksesi momen-momen kudus tatkala rasio dan utopia ditubuhkan dalam tindakan. Namun itulah arak-arakan yang penuh luka dan trauma di sepanjang lintasannya: tumbuhnya nasionalisme, revolusi 1945, prahara 1965 dan, tentu saja, bangkitnya rezim otoriter pembangunan. Sejarah tidak lain sebagai area konflik yang mencabik-cabik tubuh masyarakat dalam berbagai kontradiksi sosial-politik. Penyair datang membawa kabar penyembuhan bagi kontradiksi ini. Ditawarkannya sepetak tanah suaka ideal yang melindungi masyarakat dari horor perubahan dan kematian.

Begitulah Arif membaca sejarah sastra di Indonesia. sastra yang selalu berhubungan dengan masyarakat tempatnya berkembang. Sastra yang penuh dengan “warna” campuran antara masalah dan perdebatan. Tapi itu merupakan sejarah yang dibaca dan telah terbaca. Dan akan selalu menjadi tonggak, atau setidaknya penopang bagi perkembangan sastra.

Dalam sehari sekian banyak karya sastra yang lahir dari tangan ratusan (mungkin ribuan) sastrawan, dari pusat sampai ke daerah pelosok di Indonesia. Sekian banyak yang terbit di koran-koran setiap Minggunya. Dan setiap tahunnya sekian buku karya sastra diterbitkan—walau di balik semua itu banyak juga karya yang tercecer dan tidak mendapatkan tempat (dan terkadang mencari tempatnya sendiri). Itulah sastra, dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk pemikiran tentang segala hal. Sastra yang hidup dengan metafor-metafor.

Saya teringat tulisan bapak Fadlillah Malin Sutan Kayo Akhir Tahun di Negeri Senja, pada Sastra (Singgalang Minggu, 6 Januari 2008) dan saya ingin menyangkutkan dengan tulisan ini—tentang sastra dan metafora. Fadlillah membahas tentang Barat dan Timur, lalu menyulam tulisannya dengan metafora dari cerpen Seno Gumira Ajidarma (2003) yang memakai metafora Negeri Senja. Metafora yang dianggap sebentuk pola, cara pandang, visi:

...Pola negeri senja, dapat dipahami pada putaran waktu pada masa tua, namun tragiknya, waktu itu tidak berputar, waktu itu menetap, tidak ada satu orang tokoh, kelompok, kaum, tapi pada satu negeri. Pola budaya negeri senja itu berkuasa pada suatu negeri, budaya, politik, sehingga masa depan tidak ada di negeri itu.

Di sanalah (karya sastra) bermain dengan metafor-metafornya. Penciptaan dunia sendiri dari realitas yang tidak bisa diterima dengan akal dimainkan dengan rasa, dengan penyelipan berbagai mediasi benda hidup ataupun tidak (metafora). Dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, dari peralihan ke peralihan yang menimbulkan guncangnya kebudayaan. Sastra tetap hadir melawan pesimistis dari realitas yang mengungkung kehidupan.

Beberapa hari yang lalu terjadi sebuah peralihan lagi (dan akan tetap begitu seterusnya), peralihan dari tahun 2007 ke 2008. peralihan itu (bagi dunia sastra) hanya sebuah konteks waktu yang membuat dunia sastra itu menemukan hal-hal yang baru, tanpa meninggalkan yang lama. Konteks hanya akan mengganti sebuah kolofon, mengganti penanda, penanggalan pada sebuah karya. Mungkin akan bermunculan lagi puluhan (bahkan ratusan) sastrawan dengan ribuan karya pada tahun ini—dan semoga saja begitu setiap tahunnya.

Tapi akankah karya yang lahir itu hanya sebuah manifestasi, atau eksistensi, dari seorang sastrawan? Akankah dunia yang dianggap sunyi—padahal hiruk-pikuk itu tetap saja terjadi—itu menjadikan kesunyian berlanjut bagi masyarakat sastra karena tidak adanya sebuah “pencapaian” dalam karya sastra? Tetap saja sastra akan begitu, karya melahir, dibaca, dikritik (mungkin juga tidak) dan wacana baru.

Kesusastraan hidup dalam pikiran. Di dalam sejarah kemanusiaan yang panjang, kebenaran dalam sastra akhirnya akan menjulang dengan sendirinya, di tengah hiruk-pikuk macam apa pun yang diprogram secara terperinci lewat media komunikasi massa. Rekayasa media massa yang paling canggih pun akan cepat lumer seperti es krim, namun kesusastraan yang ditulis di atas kertas cebok di padang-padang pengasingan, dari Buru sampai Siberia, dari detik ke detik memunculkan dirinya, bicara dalam segala bahasa di delapan penjuru angin (2005 : 2)

pernyataan di atas ini bukanlah perlawanan seorang sastrawan, ungkap Seno Gumira Ajidarma. Tapi setidaknya kalimat ini telah mengungkapkan perihal sastra dan dunianya. dunia yang akan terus bergerak, di dalam pikiran. Meski hanya dengan “bergumam”, sastra akan terus menyampaikan sesuatu dengan karya-karya. dan semoga saja tahun ini (juga selanjutnya) akan bertebaran terus karya-karya sastra, walau hiruk-pikuk berbagi permasalahan terjadi.

Sastra dan metafor-metafor yang bertebaran, serupa air laut dan asin. Jika dipisah menjadikan sesuatu yang lain, sesuatu yang (c)air, tapi bukan air laut. Jika berbagai persoalan realitas menjadi sebuah jeruji, di dalam itulah sastra akan bermain. Dunia yang akan tercipta dengan sendirinya.

Kandangpadati, Januari 2007

*) Esha Tegar Putra adalah ketua HMJ Sastra Indonesia UNAND. Bergiat di Komunitas Daun dan Aktor Ranah Teater Padang.


Read more....
(0 comments at js-kit.com)
02 January 2008

Sastra Harus Kembali ke Fitrahnya

Dianing Widya Yudhistira tidak pernah menduga Sintren,
novel debutan awalnya, akan masuk ke dalam jajaran
nominator peraih anugeran sastra Khatulistiwa 2007.
Banyak orang menduga ia menulis Sintren karena
terinspirasi dari Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad
Tohari. Tapi ternyata tidak demikian adanya. Batang,
Pekalongan, tempat kelahirannya memberi Dian inspirasi
untuk menulis Sintren dengan beragam masalah yang
menyelubunginya: mulai dari soal kesenian daerah yang
telah punah, perjuangan perempuan, sampai dengan
kemiskinan yang melilit masyarakat di sana. Dianing
menuturkan gagasan serta saujananya tentang sastra dan
kebudayaan kepada Jurnal Nasional di sela-sela
kesibukannnya merampungkan novel terbarunya.
----

Anda, melalui novel Sintren, dinominasikan sebagai
penerima anugerah sastra
Khatulistiwa pada tahun ini. Bagaimana perasaan Anda?

Wah, saya senang sekali. Saya berharap dapat memenangi
anugerah itu setelah
berkali-kali cuma sampai tahap nominator saja. Naskah
novel saya yang
berjudul Weton cuma jadi finalis di DKJ (Dewan
Kesenian Jakarta). Moga-moga
sekarang saya bisa meraih Khatulistiwa, doakan ya,
mas...

Hadiahnya cukup besar, akan Anda apakan jika menang?

Wah, semoga menang. Hadiahnya untuk pendidikan
anak-anak saya.

Sementara banyak penulis perempuan mengangkat tema
seksualitas, bisa Anda
ceritakan kenapa mengangkat tema sintren ke dalam
novel Anda?

Saya tertarik dengan budaya lokal yang kini perlahan
sudah mulai punah.
Lagipula sintren kini sudah jarang, bahkan sudah tak
ada lagi di daerah saya.
Kebetulan saya dilahirkan dan besar di Batang,
Pekalongan. Dulu waktu masih
SD, saya masih bisa nonton sintren. Tapi sekarang
sintren tidak ada lagi.
Yang ada malah cafe-cafe yang mulai menjamur. Bisa
dikatakan generasi seumur
anak saya praktis sudah tak bisa lagi menikmatinya.

Dengan demikian apa yang Anda hendak sampaikan kepada
pembaca dengan segala
macam problematika kebudayaan lokal yang Anda katakan
mulai punah tadi?

Dalam novel itu saya ingin mengatakan kepada pembaca
tentang tiga hal, pertama
tentang kebudayaan lokal itu sendiri, tentang
perjuangan perempuan dan juga
kemiskinan yang menjerat masyarakat, khususnya yang
berada di sana karena
lingkungan sekitar didominasi oleh kelompok marjinal
seperti nelayan, buruh,
petani dan lain sebagainya. Karena di sana, di Batang,
lingkungan nelayan
yang sampai kini masih terlilit kemiskinan. Kemudian
saya juga ingin
membangkitkan kembali sintren, siapa tahu karena
membaca karya saya ada
pembaca yang tertarik untuk menghidupkan sintren lagi.

Menghidupkan Sintren atau mengangkat derajat
masyarakat dari kemiskinan? Atau
kedua-duanya sama Anda anggap penting dalam novel
Anda.

Tentu, dua-duanya penting. Kemiskinan itu sangat
menyakitkan dan saya ingin
kemiskinan yang diderita masyarakat itu harus terus
diperjuangkan supaya
beranjak ke taraf yang lebih baik. Tokoh novel saya,
Saraswati itu kan tokoh
yang miskin, melalui itu saya ingin katakan bahwa di
sana, di daerah,
kemiskinan itu adalah hal yang nyata, yang benar-benar
terjadi. Berbeda
dengan Jakarta, di mana kekayaan menjadi pemandangan
sehari-hari,
gedung-gedung bertingkat berdiri megah dan mobil-mobil
mewah berseliweran.
Semua itu biasa di sini. Bahkan kelas menengah kini
sudah ikut miskin.
Begitulah kenyataan masyarakat yang saya tuangkan ke
dalam novel saya.
Melalui tokoh Saraswati itu, dia seorang perempuan
yang memiliki cita-cita
kuat untuk meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang
SMEA (Sekolah Menengah
Ekonomi Atas, Red). Tetapi orangtuanya tak mampu
membiayai Saraswati, bahkan
menunggak SPP selama tiga bulan.

Anda menangkap gambaran itu dalam kehidupan nyata
sehari-hari yang pernah
alami di tempat kelahiran Anda?

Saya berangkat dari pengalaman nyata. Tokoh sintrennya
sendiri adalah kawan
saya. Jadi memang meskipun itu fiksi, semuanya jadi
bagian pengalaman hidup
saya. Kisah tersebut memang benar-benar terjadi,
seperti yang dialami oleh
kawan saya ketika masih duduk di bangku SMP di Batang.
Dia dropout dari
sekolah karena tak mampu membayar SPP. Itu realitas,
kenyataannya memang
demikian. Kita bisa melihat betapa kemiskinan bisa
menghambat orang untuk
dapat mengenyam pendidikan dengan baik. Namun dalam
novel saya diceritakan
bagaimana Saraswati gigih berusaha untuk tetap
meneruskan sekolahnya, bahkan
dengan jalan menjadi sintren. Padahal tidak semua
orangtua di Batang itu
merelakan anaknya jadi sintren. Saraswati berani
menempuh apapun, termasuk
menjadi sintren dengan resiko yang berat, asalkan ia
tetap dapat melanjutkan
sekolahnya. Pada akhirnya saya hendak mengatakan bahwa
Saraswati adalah
perempuan yang tegar dan kuat, yang tak setuju jika
pada akhirnya perempuan
kelak setelah menikah harus berakhir di dapur. Saya
ingin mengatakan kalau
perempuan itu harusnya tegar dan kuat. Tapi memang
seringkali budaya dalam
masyarakat kita tak mendukung hal-hal seperti
demikian. Begitu juga di
Batang, para orangtua lebih senang menyekolahkan anak
lelakinya ketimbang
anak perempuannya. Mereka percaya jika anak perempuan
itu pada akhirnya harus
kembali juga ke dapur. Saya masih ingat ketika masih
remaja,

Perempuan tentang perempuan. Sama seperti novel-novel
karya penulis perempuan
lainnya. Apa yang membuat karya Anda berbeda dari yang
lain?

Seorang teman dari Semarang mengatakan pada saya kalau
novel perempuan itu
isinya paling itu-tu saja isinya. Saya ingin tidak
seperti itu, seperti
kebanyakan novel lain. Sejauh ini saya akan terus
menulis tentang budaya
lokal, sehingga karya saya berbeda dengan yang lain.
Pokoknya saya ingin
bicara bahwa beginilah yang saya ingin sajikan kepada
masyarakat. Saya ingin
mengatakan bahwa perempuan itu bukan mahluk lemah.
Dalam novel itu kan
disebutkan oleh si Mak Saras bahwa perempuan cukup
bisa baca dan tulis saja,
tokh nantinya balik ke dapur lagi. Memang kenyataannya
demikian, di Batang
anak perempuan selalu dinomorduakan dalam soal
pendidikan. Orangtua di sana
lebih suka menyekolahkan anak laki-lakinya, menata
mereka supaya kelak hidup
lebih baik. Sementara anak perempuan cuma diminta
membantu orangtua
menyelesaikan pekerjaan di rumah saja. Mereka paling
tinggi disekolahkan
hanya sampai SMP atau SMA saja. Dan orangtua di sana
biasanya bangga ketika
anak perempuannya dilamar orang kemudian menikah.
Dengan demikian orangtua
bisa lepas dari tanggungjawab finansial dan tak perlu
lagi repot menjaga
mereka karena sudah jadi tanggungjawab suaminya.

Di satu sisi Anda ingin mengangkat budaya lokal, tapi
pada sisi lain Anda
seperti menggugatnya?

Yang ingin saya dobrak, ingin saya buktikan kepada
masyarakat adalah bahwa
perempuan itu sebetulnya bisa tampil menjadi subyek,
bukan sebagai pihak yang
lemah saja atau pendamping suami belaka. Di kampung
saya, dan juga mungkin di
daerah lain di Indonesia, perempuan masih sekadar jadi
kanca wingking (teman
di belakang/ di dapur, Red). Mungkin itu berlaku
sampai sekarang. Walaupun
mereka jadi sarjana, bukan berarti saya merendahkan
mereka, perempuan di sana
yang ujung-ujungnya seperti yang tadi saya katakan,
hanya jadi kanca wingking
saja. Padahal kalau saja mereka mau, mereka bisa
berkarya dan orang akan
memandang mereka bukan sebagai istri atau perempuan
biasa saja, tapi juga
subyek.

Apakah Anda melakukan penelitian untuk memperkuat
penulisan novel itu?

Iya, betul. Untuk mendapatkan data-data, saya bersusah
payah melakukan riset
dan melakukan wawancara kepada orang-orang yang pernah
terlibat di dalam
kesenian sintren. Penelitian itu saya mulai tahun
2004. Mereka rata-rata
sudah berusia lanjut, sudah tua, ada yang berusia 70
tahun ke atas, bahkan
ada yang orang yang jadi sinden panjak itu sudah pikun
sampai-sampai saya
bingung harus bagaimana mewawancarai
dia...hahahaha. ...

Banyak orang mengatakan di dalam Sintren Anda meniru
Ahmad Tohari yang menulis
Ronggeng Dukuh Paruk. Lantas apa yang membedakan
Sintren dengan Ronggeng-nya
Ahmad Tohari?

Wah, ndaklah, novel punya saya berbeda dari karya
Ahmad Tohari. Begini,
pertama saya lahir tahun 1970-an ya, berbeda dengan
Ahmad Tohari yang sempat
mengalami masa-masa pergolakan pada tahun 1960-an,
terutama 1965. Saya memang
murni ingin mengatakan dalam sintren itu cukup tentang
perjuangan perempuan
saja. Memang tak ada unsur politik dalam novel
Sintren, tidak seperti pada
karya Ahmad Tohari. Karya saya ini tentang bagaimana
seorang perempuan
berjuang. Itu saja. Dan saya pikir politik tidak harus
selalu jadi tema dalam
sebuah novel, yang penting untuk menulis yang bagus ya
saya harus tahu betul
apa yang saya sedang tulis. Saya ingin novel saya lain
dari yang lain. Ayu
Utami semisal nulis politik dengan begini...begitu. ..
terus ada lagi beberapa
penulis yang menulis novel dengan tema kehidupan
perkotaan, tapi saya tidak
mau ikut terseret dengan tema-tema seperti demikian.
Saya merasa jadi bagian
dari kebudayaan lokal itu sendiri.

Selain Sintren, novel apa lagi yang Anda akan dan
sedang tulis? Apakah semua
tak jauh-jauh dari tema kebudayaan lokal?

Iya, tiga novel saya yang belum dipublikasikan juga
mengangkat persoalan
kearifan lokal. Semisal pada naskah novel Weton yang
sempat saya ikutkan
lomba DKJ kemarin. Dalam novel itu saya menceritakan
tentang weton
(perhitungan hari baik di dalam masyarakat Jawa, Red),
sekaligus mendobrak
kenyataan bahwa weton itu tak sesuai lagi dengan zaman
modern ini. Dan itu
hingga kini masih dianut kuat oleh orang Jawa, untuk
menghitung hari baik apa
kiranya di dalam melaksanakan sesuatu, semisal
pernikahan. Bahkan gara-gara
weton sampai-sampai ibu dan anak berpisah, gara-gara
weton hari lahir anaknya
sama dengan bapaknya. Dan itu dianggap tidak membawa
rezeki, jadi si anak
harus harus hidup terpisah dengan orangtuanya. Dalam
weton saya bicarakan
soal budaya Jawa yang berakar begitu kuat,
sampai-sampai orang pacaran pun
batal menikah hanya karena perhitungan wetonnnya tidak
ideal.

Tapi kan weton itu bagian dari kearifan lokal
masyarakat Jawa yang justru
seharusnya Anda lestarikan juga?

Dalam Weton ada hal yang tidak manusiawi. Saya ingin
mengatakan kepada
masyarakat Jawa bahwa semua hari itu baik, jangan
dipermasalahkan. Soalnya
weton itu sudah banyak memakan korban, teman saya pun
mengalami masalah
gara-gara weton. Dia gagal menikah hanya karena
dianggap wetonnya tidak
cocok. Tapi juga di bagian lain, ada yang disetujui
oleh orangtua kendati
wetonnya tidak cocok, namun tetap dipaksakan menikah.
Akibatnya mereka selalu
dirundung marabahaya. Nah yang begini yang selalu
dijadikan alasan buat
masyarakat untuk membuktikan bahwa weton itu penting.
Saya sendiri tidak
setuju dengan pendapat itu. Bagi saya apa yang menimpa
mereka bukan karena
wetonnya.

Anda punya komentar menyikapi kondisi kesusasteraan
Indonesia akhir-akhir ini?
Lantas bagaimana menurut pendapat Anda menyoal
menjamurnya komunitas sastra
di berbagai kota?

Menurut saya inilah sastra kita, ciri khas selalu ada.
Keberagaman dalam
sastra itu baik, bagus. Dan kondisi kesusasteraan
Indonesia menurut saya
baik-baik saja. Saya sendiri kurang berminat untuk
bergabung dengan komunitas
sastra, kalau ada undangan ya saya datang. Dengan
demikian saya bisa berbagi
dengan anggota komunitas itu. Saya lebih suka
individual.

Sebagai penulis Anda punya Ideologi gak sih?

Apa ya? Hahaha...Pokoknya apa yang saya tulis itu bisa
bermanfaat, ada unsur
nilai moralitasnya dan saya ingin apa yang saya tulis
bisa jadi bahan
perenungan bagi pembaca. Saya juga ingin mengedepankan
soal perempuan dan
juga ahlak manusia. Saya menulis tidak sekadar
memenuhi batin saja. Saya
ingin tulisan saya ditulis di ruangan terbuka. Saya
ingin kita kembali kepada
fitrahnya sastra, bahwa sastra itu karya yang bisa
membuat orang terenyuh,
bisa jadi peka dan memiliki pekerti yang luhur. Saya
kepingin karya sastra
bisa mencerahkan pembacanya, bukan sekadar sensasional
saj ya... karena ada
orang yang menulis hanya untuk sensasi saja. Tidak
mencerahkan.

Tolong Anda sebutkan contoh karya sensasional itu,
dong?

Nggak ah..saya juga ndak mau membuat sensasi
hahahaha... saya pikir pembaca
kita juga sudah cerdas, mereka bisa menilai sendiri
karya mana yang seperti itu.


Read more....
(0 comments at js-kit.com)