<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610</id><updated>2011-10-28T09:31:08.938+07:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Himpunan'/><category term='Telaah'/><category term='TEKSTIKA'/><category term='Event'/><category term='Berita Seputar Sastra'/><category term='Berita'/><category term='Dari Admin'/><title type='text'>HMJ Sastra Indonesia</title><subtitle type='html'>"Di sini, telah kutanam kata per-kata. Agar esok tumbuh menjadi bebunga mekar yang menawan lagi indah"

(Jika Kuntum Tak Lagi Mekar VIII, 2007)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-4660503606923741019</id><published>2008-04-18T14:27:00.000+07:00</published><updated>2008-04-18T14:29:40.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telaah'/><title type='text'>“Selamat Jalan Tuan Presiden”</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh Gusriyono&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Gabriel Garcia Marquez, sastrawan Amerika Latin dalam cerpennya yang dterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul &lt;i style=""&gt;Selamat Jalan Tuan Presiden&lt;/i&gt;, pernah bercerita tentang hari-hari terakhir seorang presiden yang pernah digulingkan dari kursi kekuasaannya. Dimana setiap sore Si Presiden duduk dibangku taman yang didepannya terdapat sebuah kolam tempat angsa bermain. Tidak ada yang menghiraukannya, semua orang seakan tak peduli bahkan berusaha untuk tidak mengenalnya. Begitulah ia menghabiskan sorenya di taman itu, menikmati sisa usianya. Kesepian orang besar yang dulu sangat berwibawa dan berkuasa.&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Soeharto—anak petani Desa Kemusuk yang kemudian memimpin bangsa ini, barangkali—setelah lengsernya—mengalami juga kesepian seperti itu. Kesepian seorang penguasa dalam lalu-lalang pujian dan hujatan orang banyak, namun tetap tersenyum dengan lambaian tangan yang sama. Selama tiga puluh dua tahun menjalani rutinitas sebagai kepala negara dengan program pembangunan nasionalnya, Suharto telah memberi banyak warna dalam pembangunan bangsa ini. Semua orang mengaguminya dan tak jarang berusaha untuk menjadi orang terdekatnya. Namun ketika ia menarik diri dari kursi kepemimpinan, jadilah ia si penikmat sepi dalam usia yang kian uzur dalam deraan hujatan dan tuntutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Memang, adakalanya seperti pohon beringin tua di Pantai Padang yang beberapa waktu lalu tumbang. Pohon berumur ratusan tahun tersebut—yang tidak bisa ditebang dan tidak seorangpun berani mengganggunya, ketika telah tumbang siapa saja berani menaikinya termasuk katak yang hobinya meloncat-loncat pun berani bersuara diatas pohon rebah tersebut. Ketika sebuah kekuasaan dilepaskan dari diri kita, maka semuanya berbalik, keberpihakan menjadi ketidakberpihakan, kawan menjadi lawan dan sebagainya. Bahkan setiap orang seolah punya hak untuk menghujat dan menuntut pertanggung jawaban. Kadang dalam hiruk-pikuk persoalan tuntut menuntut tersebut, sumbangsih dan jasa sering terlupakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun, hal menarik dalam cerpen (baca; &lt;i style=""&gt;Selamat Jalan Tuan Presiden&lt;/i&gt;) Marquez tersebut, bagaimana Si Presiden menjadi bahan perdebatan penuh emosi antara suami dan istri dalam sebuah keluarga—tempat Si Presiden sering berkunjung. Dalam perdebatan tersebut Si Suami lebih membela&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Si Presiden sedangkan Si Istri lebih banyak mengkritisi dan menghujat Presiden tersebut. Suatu penggambaran yang sangat kontras sekali sebenarnya, keterwakilan antara yang membela dengan yang menghujat. Pihak yang membela digambarkan sebagai sosok lelaki, suami—kepala rumah tangga yang mempunyai wilayah kekuasaan. Sementara pihak yang mengkritisi atau menghujat diwakili oleh sosok perempuan, istri—pasangan kepala rumah tangga yang harus tunduk dan patuh kepada suami. Mungkin seperti itu jugalah penggambaran terhadap kebijakan-kebijakan Soeharto, yang kemudian di masa pensiunnya menjadi kasus dan meminta pertanggung jawaban. Sebab, walau bagaimanapun tidak semua kebijakan-kebijakannya memihak kepentingan orang banyak. Ada bagian-bagian dimana ia tampil sebagai otoriter dan bergaya Machiavelli. Niniek L. Karim dan Bagus Takwin (&lt;i style=""&gt;Kompas, 5 Mei 2000&lt;/i&gt;) mengatakan bahwa, seorang dengan kepribadian Machiavellian dan otoritarian, dengan latar belakang deprivasi beberapa kebutuhan dasar di masa kecil yang menetap sehingga cenderung membuatnya melakukan over kompensasi, bila memiliki juga kecerdasan yang tinggi, didukung kesempatan dan kondisi lingkungan, bisa menjadi pemimpin yang terlalu berkuasa. Kekuasaannya bisa mengarahkan dia menjadi seorang diktator, melakukan tindakan tirani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat Si Presiden tidak lagi berkunjung ke keluarga tersebut, pasangan suami istri itu merasa ada yang hilang dari hidupnya. Tidak ada lagi perdebatan yang emosional waktu itu. Serupa Soeharto, yang menggenapkan usianya di titik 13:40 WIB, 27 Januari lalu. Semuanya kehilangan sosok yang selama ini penuh kontroversial. Orang-orang menundukkan kepala memberi penghormatan yang terakhir lengkap dengan isak tangis. Sesuai dengan filosofinya,&lt;i style=""&gt; kaba baiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan. &lt;/i&gt;Maka, &lt;i style=""&gt;bahambauanlah&lt;/i&gt; sekalian orang mengantar jenazah ke &lt;i style=""&gt;pandam pakuburan&lt;/i&gt;, tak kurang jua sedekah kaji dan zikir serta doa-doa mohon kelapangan jalan bagi almarhum menujuNya. Permintaan maaf terhadap kesalahan-kesalahan almarhum juga dimohonkan ahli waris. Bahkan negara menetapkan sebagai hari berkabung nasional yang ditandai dengan menaikkan bendera setengah tiang selama tujuh hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sementara waktu, semua orang tertuju pada perkabungan dan pengenangan terhadap jasa-jasa almarhum, namun masih ada juga yang mempersoalkan dosa-dosa terhadap kesalahan yang barangkali tidak bisa dimaafkan secara lahir. Pertanyaannya, sebegitu pentingkah hal-hal tersebut dibaca saat tanah perkuburan masih merah, ketika hujan air mata masih menderas dan kabut duka masih menyelimuti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Barangkali kita perlu mengarifi bersama apa yang sering disampaikan ahli waris dari orang yang meninggal dunia ketika kita pergi ta’ziah di kampung-kampung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nyampang ado nan indak bisa dikarilahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kok utang rokok nan babatang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kok salang bareh nan bagantang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kok tenggang pitih nan babilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lah taduah hujan, lah tarang kabuik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Datanglah kapado kami ahli warih almarhum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Disini termaktub bahwa ada waktunya—&lt;i style=""&gt;lah taduah hujan, lah tarang kabuik&lt;/i&gt;—disaat mana kita harus datang dengan persoalan-persoalan yang mungkin harus diselesaikan secara aturan atau hukum yang berlaku. Pemahaman pada filosofi seperti ini telah mengajarkan kita untuk bersikap bijak dalam menghargai kematian seseorang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ditaman, orang-orang tidak melihat lagi Tuan Presiden duduk dibangku menikmati sore sembari menyaksikan angsa-angsa bermain dikolam. &lt;i style=""&gt;Selamat Jalan Tuan Presiden!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis, bergiat di Rumah Kreatif Kandangpadati serta Ranah Teater di Padang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-4660503606923741019?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/4660503606923741019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=4660503606923741019&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4660503606923741019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4660503606923741019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/04/selamat-jalan-tuan-presiden.html' title='“Selamat Jalan Tuan Presiden”'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-94252657673152122</id><published>2008-04-18T13:49:00.001+07:00</published><updated>2008-04-18T14:01:11.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Temu Penyair Lima Kota (27-29 April 2008)</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dewan Kesenian Payakumbuh, Kantor Pariwisata Kota Payakumbuh, Dewan Kesenian Sumatra Barat bekerja  sama dengan komunitas-kumunitas seni dan sastrawan Sumatra Barat mengadakan hajatan puisi yang diberi nama &lt;b style=""&gt;Temu Penyair Lima Kota&lt;/b&gt;. Acara akan diisi oleh kegiatan diskusi sastra (puisi) dan kepenyairan di lima kota, launching buku kumpulan puisi, baca puisi, pementasan teater dan musik puisi. Beberapa tamu (penyair) yang diundang, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jogja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;: Abdul Khafi Syatra, As’adi Muhammad, Bernando J. Sujibto, Dwi Rahayoso, Faisal Kamandobat, Fahmi Am, Imam S Arizal, Indrian Koto, Joko Gesang Santoso, Komang Ira Puspita Ningsih, Mutia Sukma, Y. Thendra BP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bali&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;: Aa. Putu Santiasa putra, I kadek Surya Kencana, Ni Ketut Sudiani, Ni Made Frisca Aswarini, Ni Made Purnama  Sari, Ni Putu Destriani Devi, Ni Putu Rastiti, Pranita Dewi, Zinda Ruud Purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;: ......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sumbar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;: Anda S, Chairan Hafzan Yurma, Heru JP, Iggoy El fitra, Esha Tegar Putra, Pinto Anugrah, Feni Effendi, Fitra Yanti, Ragdi F Daye, Romi Zarma, Nilna R Isna, Fadilla Ramadona, Zelfeni Wimra, Dedy Arsya, Sayyid Madhani Syani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lampung&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;: Fitri Yani, Inggit Putria Marga, Iswadi Pratama, Jimmy Maruli Alfian, Lupita Lukman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;peninjau&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Aan Mansyur (Makasar), Irianto Ibrahim (Kendari), Syaiful Gani (Kendari), Titas Suwanda (Jambi), Nanang Tasurna (Jambi), Isan Mongkogita Dasin (Babel), Ira Esmeralda (Babel), Mamaqdudah (Babel), Wanda Leopolda (Jakarta), Irmansyah (Jakarta), Adien Histerya (Semarang), Lanang Q (Semarang), Surya Hadi (Pekanbaru), Rahmad Sanjaya (Aceh), M Yunus Rangkuti (Medan), Sobirin Zaini (Pekanbaru), Kedung Darma (Jogja), dll. &lt;b style=""&gt;Pembicara&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Nur Zein Hae, Sudarmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Salam Hormat,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Panitia Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Panitia Kegiatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pelindung&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;: Walikota Payakumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penasihat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;: Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya&lt;br /&gt;                        Kota Payakumbuh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                  &lt;/span&gt;                        Ketua Dewan Kesenian Sumatra Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pengarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;: Gus tf&lt;br /&gt;                        Yusril&lt;br /&gt;                        Rusli Marzuki Saria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penanggung jawab&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;: Ketua Dewan Kesenian Kota Payakumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketua Panitia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Iyut Fitra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wakil Ketua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;: Ijot Goblin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;                            Dony Prayuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekretaris&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;: Sudarmoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wakil Sekretaris&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;: Khris La Deva&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bendahara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;: Yusra Maiza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekretariat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                             &lt;/span&gt;: Zelfeni Wimra&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;                            Pinto Anugrah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;                            Esha Tegar Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bidang Acara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Romi Zarman&lt;br /&gt;Yetti A KA&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wahyu MS&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;                              &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                 &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Della Nst&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;                                                   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sukra Maulana&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Endi J&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aspon Dede&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                               &lt;/span&gt;Feni Warnialis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bidang Perlengkapan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Yongki Wahid&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yan Putra Utama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sanur&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Novandri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Syaiful Hadi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Feni Effendi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Konsumsi dan Akomodasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;: Komunitas Seni  Intro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bidang Dana&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;: AR Rahman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Reno Wulan Sari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ria Febrina&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ganda Cipta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Riko Oktian Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;LO&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                           &lt;/span&gt;: Mutia Ulfa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dhini Rezky Husada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Deddy Arsya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Chairan Chafzan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gusriyono&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-94252657673152122?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/94252657673152122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=94252657673152122&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/94252657673152122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/94252657673152122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/04/temu-penyair-lima-kota-27-29-april-2008.html' title='Temu Penyair Lima Kota (27-29 April 2008)'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-7129026439402280805</id><published>2008-04-10T09:17:00.003+07:00</published><updated>2008-04-10T09:24:09.070+07:00</updated><title type='text'>Ini Peristiwa Puisi!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;oleh: Esha Tegar Putra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;      &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;...dalam kamar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;dalam terang damar,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;namaku seperti menggelupas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;namamu seperti melepas,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;meninggalkan si ampas kopi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;membekap puisi yang belum jadi,...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(peristiwa kamar; Agus Hernawan)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Puisi, sebentuk rumah (mungkin juga disebut dunia) tempat bertumbuh-kembangnya “kata” bahkan “bahasa,” dimana pergulatan “nyata” memendam di dalamnya. Dimulai dari kelisanan bahasa, ia—puisi—dutuliskan di lontar, kulit binatang, sampai pada kertas-kertas kumuh. Selama ini mungkin hanya nama, dari si penyair Fanshuri bertolak ke Chairil, atau sederetan nama yang beberapa dekade ini muncul di lembaran koran dan majalah. “Mereka” tersebut dalam sederetan nama, tapi yang jelas “mereka” bangkit, hadir tersebab puisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Segala rasa, ide, pandangan tumpah dalam puisi yang membentuk semacam kristal. Puisi juga menjadi sebuah pertanda bagi setiap generasi yang pernah ada. Puisi bukan hanya sebentuk kata-kata yang terjalin dengan dengan indah, tapi lebih kepada pemaknaannya. Puisi sanggup membuat si penyair atau si pembaca masuk dan merasa; bahwa ia sendiri puisi itu! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika ditilik perjalanan perpuisi Indonesia modern sampai kini adalah perjalanan untuk meraih berbagai kebebasan Bermacam perambahan dalam perkembangan perpuisian modern di Indonesia kian berkembang. Dari penyair Pujangga Lama yang berkutat dengan bentuk pengucapan syair dan pantun, Pujangga Baru yang berusaha membebaskan diri dari hal itu, sampai pada dekade angkatan-angkatan yang dibuat berikutnya. Perubahan terhadap bentuk pada puisi pun makin berkembang dari masa ke masa. Perombakan terhadap kata-kata marak dilakukan para penyair di tahun 1970-an, dengan berbagai upaya pembebasan kata serta pemanfaatan serta kandungan nuansa kata yang didapat dari akar tradisi, di awal tahun 1980-an mulai dianggap selesai atau telah selesai pada titik jenuh. Tahun 1980-an perhatian utama penyair cenderung beralih pada imaji. Dan sekarang sebagian penyair (yang diistilahkan) mutahkir malah kembali menggali kearifan lokal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejarah perkembangan perpuisi itu merupakan sebuah kritisme puisi. Seperti yang dikatakan oleh Arif bagus Prasetyo dalam &lt;i style=""&gt;Epinomenon&lt;/i&gt;: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebentuk peradaban impian nan gemilang di masa depan, sejarah hadir sebagai suksesi momen-momen kudus tatkala rasio dan utopia ditubuhkan dalam tindakan. Sejarah tidak lain sebagai area konflik yang mencabik-cabik tubuh masyarakat dalam berbagai kontradiksi sosial-politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penyair datang membawa kabar penyembuhan bagi kontradiksi ini. Ditawarkannya sepetak tanah suaka ideal yang melindungi masyarakat dari horor perubahan dan kematian Memang begitulah penyair, puisi dan kesejarahan dari perpuisian Indonesia. Di dalam pusaran sejarah penyair itu membuat dunianya sendiri. Dunia yang mencipta dari jalinan teks-teks yang terus tumbuh dan berkembang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika dilihat secara kuantitas maupun kualitasnya, karya sastra (puisi) yang terbit belakangan ini seperti datang berdesakan. Di lembaran sastra koran, majalah, buku, bakhan media paling instan seperti internet. Faktor utama yang memungkinkan sastra Indonesia berkembang seperti itu, tentu saja disebabkan oleh terjadinya perubahan yang sangat mendasar dalam berbagai persoalan yang terjadi dari dalam diri si penyair itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka adalah penyair, si pencipta puisi, orang-orang terlahir dari peristiwa puisi. Peristiwa-peristiwa yang bergumulan dengan teks-teks yang mirip picingan mata. Mengendap begitu saja. Teks-teks yang berbeda dengan lain di luar dunia sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dunia sastra? Ya, dunia yang penuh hiruk pikuk, penuh dengan segala macam pebaharuan, perputaran, pembalikan perlawanan terhadap teks-teks yang lain. sehingga dunia sastra membentuk sebuah dunia yang penuh dengan lapisan makna. Si penyair mungkin saja menulis kan “ini”, dan si pembaca atau pun si penelaah bisa sajamengartikannya “itu”, itulah puisi dengan rentetan peristiwa yang telah menggubah sebuah peradaban. Sebuah peradaban telah dirubah oleh peristiwa puisi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; line-height: 150%;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; line-height: 150%;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Geliat dunia kesusastraan khususnya Sumatra Barat (Sumbar) dari masa ke masa kian menggairahkan. Banyak karya-karya sastra yang bermunculan dari Sumbar beriring dengan deretan nama yang terus saja bertambah. Ruang-ruang publikasi karya baik di koran lokal Sumbar, luar daerah Sumbar, ataupun koran-koran nasional dan berbagai majalah menjadi tempat yang menarik untuk “bertarung” karya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tentunya ruang-ruang itu mempunyai sebuah keterbatasan, bagaimana tidak, kebanyakan ruang-ruang itu terbit sekali sepekan. Tapi keterbatasan ruang-ruang publikasi karya di berbagai media itulah yang membuat sebuah iklim yang sehat bagi proses penciptaan karya. di mana, antara mereka yang melahirkan karya-karya berusaha untuk lebih baik dalam hal pencapaian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada yang bertumbuh, tentu saja tidak semuanya yang terus bertumbuh. Sebagian terus tumbuh dan sebagian lagi ada yang tumbang. Itu memang sebuah hukum alam dalam sebuah proses. Tapi untuk mengimbangi hukum alam tersebut banyak hal-hal yang telah dilakukan oleh berbagai pihak. Contohkan saja dengan diadakannya bermacam lomba cipta karya (baik itu novel, cerpen, puisi), mengumpulkan karya-karya dalam sebuah buku, atau dengan mengadakan sebuah hajatan (pertemuan) antar para penggiat-penggiat sastra di dalam atau luar daerah Sumbar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk itulah tahun ini Dewan Kesenian Payakumbuh, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Payakumbuh, Dewan Kesenian Sumatra Barat mengambil sebuah inisiatif untuk menyeimbangi hukum alam tersebut, terkhusus dunia perpuisian. Dengan mengadakan sebuah acara temu antara penyair, para pemerhati puisi, dan masyarakat. Kerjasama antar beberapa elemen tersebut bertujuan untuk menghargai karya-karya para penyair—acara ini dikhususkan bagi para penyair-penyair muda—yang beberapa dekade ini nama mereka bermunculan di berbagai media seiring karya-karya mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada dua rapat panitia di Kantor DKP (Dewan Kesenia Payakumbuh) dan markas Komunitas Intro (Payakumbuh) telah mendapat sebuah kesepakan bahwasanya acara ini akan diadakan pada tanggal 27-29 April mendatang, di Kota Payakumbuh. Acara ini yang diberi nama &lt;i style=""&gt;Temu Penyair Lima Kota&lt;/i&gt;. Di luar Sumatra Barat, empat daerah (atau kota) lain yang diundang penyair-penyair mudanya dalam acara ini adalah daerah &lt;i style=""&gt;Bali, Lampung, Jogja, Bandung&lt;/i&gt;. Masing-masing daerah akan mengutus 10 orang penyairnya untuk datang dan pemilihan itu dilakukan oleh kordinator masing-masing daerah yang telah ditunjuk oleh panitia acara. Masing-masing penyair yang diutus mengirimkan beberapa puisinya, yang mana, puisi itu akan dijadikan sebuah antologi yang akan diterbitkan pada pembukaan acara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kami menyeleksi beberapa para penyair muda dari Sumbar dengan memperhatikan kekonsistenan dalam proses mereka berkarya!” Begitulah ungkap Iyut Fitra, koordonator terpilih untuk daerah Sumbar—selaku ketua pelaksana acara ini dan ketua Dewan Kesenian Payakumbuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Adapun beberapa nama para penyair muda dari Sumbar yang diundang dalam acara ini antara lain: Anda S, Chairan Hafzan Yurma, Fadhila Ramadona, Feni Efendi, Esha Tegar Putra, Igoy El Fitra, Romi Zarman, Ragdi F Daye, Nilna R Isna, Fitra Yanti, Pinto Anugrah, Dedy Arsya, Zelfeni Wimra, Heru JP, Sayyid Madany Syani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;    Di samping lima daerah yang diundang ada beberapa daerah lain yang diikutsertakan sebagai peserta peninjau antara lain &lt;i style=""&gt;Jakarta, Bangka Belitung, Jambi, Pekanbaru, &lt;/i&gt;dan&lt;i style=""&gt; kendari&lt;/i&gt;. Acara ini bermula dari pertemuan yang sudah diadakan di Bandung (2005) dan Jogja (2007)&lt;i style=""&gt;.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;    Sumbar dipilih untuk menjadi panitia acara selanjutnya (setelah di Jogja, 2007) melalu kesepakat bersama sewaktu di Jogja. Dan setelah melalui beberapa perbincangan dengan beberapa komunitas-komunitas sastra, para sastrawan di Sumbar. Maka ditetapkan acara ini di Payakumbuh dengan melihat beberapa pertimbangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;    Acara Temu Penyair Lima Kota (singkat: TPLK) ini memang lebih memprioritaskan penyair-penyair muda sebagai pesertanya. Muda dan artian proses dan kredibilitas mereka sebagai penyair. Dan di acara TPLK nantinya akan dibahas berbagai persoalan mengenai perpuisian di Indonesia akhir-kahir ini, geliat perpuisian di daerah masing-masing dan beberapa permasalahan lain menyangkut publikasi karya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut Sudarmoko (Sekretaris TLPK) dalam acara ini juga bakal di undang beberapa pembicara nasional, yaitu: Nur Zen Hae (Sastra Dewan Kesenian Jakarta), Nirwan Ahmad Arsuka (pengamat sastra dan redaktur di kompas), dan beberapa pembicara lokal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;    Acara ini bertujuan juga untuk lebih mendekatkan lagi dunia kesuastraan (khususnya puisi) dengan masyarakat Sumbar. Dan tidak tertutup kemungkinan bagi siapa saja untuk datang. Selain acara diskusi, masing-masing penyair yang diundang ini nantinya akan membacakan puisi. Juga ada beberapa pertunjukan teater dan musik puisi yang akan diisi oleh komunitas-komunitas seni yang ada di Sumbar.    &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;    Semoga saja dengan adanya acara ini, makin menyemangatkan mereka yang bergelut di dunia perpuisian. Sekali lagi, “siapa saja boleh ikut nimbrung dalam acara ini!” Menurut panitia acara ini akan beralih tempat setiap tahunnya. Jika kemaren di Jogja, sekarang Sumbar, mungkin saja tahun besok diadakan di Bali atau di Kendari, bisa saja. Yang jelas ini bukan hanya sekadar hajatan biasa atau kongkow-kongkow. Berharap dengan adanya acara ini mungkin akan tumbuh lagi penyair-penyair (sastrawan) muda dari Sumbar khususnya yang akan menggairahkan dunia kesusastraan Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" lang="IN"&gt;* Panitia Temu Penyair Lima Kota&lt;br /&gt;Tulisan ini pernah diterbitkan di koran Padang Ekspres (6/4/08)&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-7129026439402280805?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/7129026439402280805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=7129026439402280805&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7129026439402280805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7129026439402280805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/04/ini-peristiwa-puisi.html' title='Ini Peristiwa Puisi!'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-3783659187595895133</id><published>2008-02-15T15:46:00.003+07:00</published><updated>2008-02-15T16:23:57.512+07:00</updated><title type='text'>SASTRA AWARD 2008</title><content type='html'>PENGHARGAAN terhadap para penulis memang perlu. Di samping penyemangat, adalah keharusan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang peduli dengan dunia kepenulisan. Meskipun dihantam polemik (antara yang mempertanyakan kualitas dan mempertahankan kuantitas tulisan) penghargaan ini adalah awal penting sebab jarang-jarang Fakultas Sastra Unand memberikan penghargaan kepada penulisnya. Semoga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SASTRA AWARD&lt;/span&gt; ini bisa berkelanjutan, untuk memacu adrenalin penulis muda agar giat menulis, dan menulis lagi. Semoga Pak Zul memarahi BEM Sastra yang telah lancang meniadakan Divisi Kreativitas dan Seni dalam kepengurusannya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Andalas (FSUA) ke-26, FSUA akan memberikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SASTRA AWARD&lt;/span&gt; kepada mahasiswa dan dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas, dengan kategori:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAHASISWA PENULIS PEMULA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Sastra Unand dengan menyerahkan Copy-an Kartu Tanda Mahasiswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencantumkan nama jurusan atau fakultas dan nama universitas di bagian bawah tulisan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jenis tulisan yang dihitung adalah artikel, esai, resensi buku, feature, cerita anak, cerita pendek, dan puisi yang pernah dipublikasikan selain dari surat kabar Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Publikasi tulisan terhitung dari 1 Januari 2007-31 Desember 2007.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyerahkan copy-an kliping tulisan yang telah dijilid rapi (untuk kategori ini covernya berwarna biru). Cantumkan nama kategori di bagian sudut kanan atas cover dan sertakan juga biodata lengkap.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tulisan yang disertakan harus mencantumkan nama Surat Kabar, Hari, dan Tanggal Pemuatan tulisan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap mahasiswa penulis tidak dibenarkan mengikuti dua kategori.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir penyerahan 28 Februari 2008, pukul 16.00 WIB.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Hadiah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penulis Pemula Terproduktif I: Pembebasan biaya SPP selama 1 semester+Rp. 500.000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis Pemula Terproduktif II: Pembebasan biaya SPP selama 1 semester+Rp.300.000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis Pemula Terproduktif III: Rp.300.000&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sebelum penyerahan kliping, penulis harus menghubungi no. HP. 08126783639 untuk informasi lebih lanjut, dan membuat janji bertemu dengan pemilik no. HP. tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAHASISWA PENULIS NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Persyaratan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Sastra Unand dengan menyerahkan copy-an Kartu Tanda Mahasiswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencantumkan nama jurusan atau fakultas dan nama universitas di bagian bawah tulisan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jenis tulisan yang dihitung adalah artikel, esai, resensi buku, feature, cerita anak, cerita pendek, dan puisi yang pernah dipublikasikan di surat kabar Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Publikasi tulisan terhitung dari 1 Januari 2007-31 Desember 2007.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyerahkan copy-an kliping tulisan yang telah dijilid rapi (untuk kategori ini covernya berwarna merah). Cantumkan nama kategori di bagian sudut kanan atas cover dan sertakan juga biodata lengkap.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tulisan yang disertakan harus mencantumkan nama Surat Kabar, Hari, dan Tanggal Pemuatan tulisan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap mahasiswa penulis tidak dibenarkan mengikuti dua kategori.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir penyerahan 28 Februari 2008, pukul 16.00 WIB.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Hadiah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penulis Nasional Terproduktif I: Pembebasan biaya SPP selama 2 Semester+Rp.800.000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulis Nasional Terproduktif II: Pembebasan biaya SPP selama 1 semester+Rp.800.000&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sebelum penyerahan kliping, penulis harus menghubungi no. HP. 081374691471 untuk informasi lebih lanjut, dan membuat janji bertemu dengan pemilik no. HP. tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DOSEN PENULIS NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Persyaratan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Terdaftar sebagai dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencantumkan nama jurusan atau fakultas dan nama universitas di bagian bawah tulisan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jenis tulisan yang dihitung adalah artikel, esai, resensi buku, feature, cerita anak, cerita pendek, dan puisi yang pernah dipublikasikan di surat kabar Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, dan Seputar Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Publikasi tulisan terhitung dari 1 Januari 2007-31 Desember 2007.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyerahkan copy-an kliping tulisan yang telah dijilid rapi (untuk kategori ini covernya berwarna kuning). Cantumkan nama kategori di bagian sudut kanan atas cover dan sertakan juga biodata lengkap.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tulisan yang disertakan harus mencantumkan nama Surat Kabar, Hari, dan Tanggal Pemuatan tulisan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap mahasiswa penulis tidak dibenarkan mengikuti dua kategori.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir penyerahan 28 Februari 2008, pukul 16.00 WIB.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Hadiah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dua dosen penulis nasional terproduktif: Hard Disk Eksternal (kapasitas 80 GB)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sebelum penyerahan kliping, penulis harus menghubungi no. HP. 081363215384 untuk informasi lebih lanjut, dan membuat janji bertemu dengan pemilik no. HP. tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, FSUA juga memberikan sebuah buku kepada masing-masing mahasiswa penulis dengan syarat telah menyerahkan copy-an kliping tulisan. Pemenang akan diumumkan dalam acara Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Andalas ke-26, pada 7 Maret 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-3783659187595895133?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/3783659187595895133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=3783659187595895133&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/3783659187595895133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/3783659187595895133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/sastra-award-2008.html' title='SASTRA AWARD 2008'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-4240659364590893542</id><published>2008-02-15T15:28:00.002+07:00</published><updated>2008-02-15T15:35:21.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Himpunan'/><title type='text'>SELAMAT BERBAHAGIA</title><content type='html'>HMJ Sastra Indonesia Universitas Andalas mengucapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SELAMAT BERBAHAGIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada bang Ade Efdira (Ragdi F. Daye) yang melangsungkan pernikahan beberapa minggu yang lalu. Semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-4240659364590893542?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/4240659364590893542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=4240659364590893542&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4240659364590893542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4240659364590893542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/selamat-berbahagia.html' title='SELAMAT BERBAHAGIA'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-6299062349430814481</id><published>2008-02-15T15:04:00.003+07:00</published><updated>2008-02-15T15:24:29.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Himpunan'/><title type='text'>LAD 2007 BATAL ATAU DIUNDUR?</title><content type='html'>KAMIS tanggal 14 Februari 2008, panitia LAD (Latihan Alam Dasar) 2007 sibuk bukan kepalang. Stres, menghinggapi setiap kepala panitia. Menurut rencana, LAD akan diadakan Jumat besoknya tanggal 15-17 Februari 2008. Namun, karena gesekan dengan peserta yang "membandel" akhirnya panitia memutuskan untuk membatalkan perencanaan LAD keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatalan disinyalir karena koordinasi antara panitia dengan peserta acara (BP 07) tidak optimal. Tetapi menurut salah seorang panitia yang tidak mau disebutkan namanya, dengan nanar ia sebutkan bahwa: "BP 07lah yang terlalu manja dan banyak alasan. Kalau alasannya masuk akal, ok-lah bisa diterima. Tetapi, alasan yang dikemukakan sering tidak logis. Bilang saja tak mau pergi, sehingga panitia tak susah-susah kesana-kemari, di damprat sana-sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang telah dirembukkan bersama mengharuskan peserta untuk membawa peralatan masak, dan kebutuhan pribadi lainnya. Hal ini, diupayakan agar di antara peserta tercipta kondisi mandiri di samping mengetahui dasar-dasar teater dan kepenulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan yang diajukan oleh anak 07 dinilai panitia tak menjadi alasan. "Kita pergi LAD bukan main-main dan tidak sekedar pemberian materi, tetapi membina pribadi agar mandiri." begitulah kutipan yang sering dilontarkan oleh ketua LAD Nofrizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan amarah yang menggebu (karena panitia juga manusia), panitia mengancam LAD batal dan anak 07 tak "diakui" dan akan diacuhkan keberadaannya di masyarakat Sastra Indonesia. Namun, ancaman itu akhirnya luluh juga, setelah panitia berembug oleh salah satu SC (Abenk). Acara tetap akan dilaksanakan tetapi diundur hingga 2 minggu ke depan sehingga tanggal 29-2 Maret 2008 adalah tanggal yang dilirik untuk dilaksanakan LAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, LAD tetap jadi karena ia adalah harapan bagi regenerasi peduli jurusan Sastra Indonesia. Khususnya, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-6299062349430814481?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/6299062349430814481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=6299062349430814481&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/6299062349430814481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/6299062349430814481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/lad-2007-batal-atau-diundur.html' title='LAD 2007 BATAL ATAU DIUNDUR?'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-7109044229140288005</id><published>2008-02-09T12:59:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T13:04:00.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telaah'/><title type='text'>Menyibak Tirai "Hujan Bulan Juni' Sapardi Djoko Damono</title><content type='html'>Oleh: Lia Octavia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi, menurut kamus Wikipedia Indonesia, berasal dari bahasa Yunani kuno poieo/poio yang berarti I create atau saya menciptakan. Adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain aerti semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rhyme adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan karena beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagia jenis literature tetapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penyair adalah seseorang yang menulis/mengarang karya puisi. Karya ini biasanya dipengaruhi oleh tradisi budaya dan intelektual dan ditulis dalam suatu bahasa tertentu. Beberapa kalangan menganggap bahwa puisi yang terbaik memiliki ciri-ciri yang luas, tidak lekang oleh waktu dan memiliki gambaran umum bagi seluruh umat manusia. Kalangan lainnya lebih mementingkan kualitas dari fakta dan keindahan yang terkandung dalam puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyair besar Indonesia yang dikenal luas adalah Sapardi Djoko Damono. Dilahirkan di Solo, 20 Maret 1940 dan di tempat itu pula ia menghabiskan masa-masa indah dari kanak-kanak hingga dewasa. Pertama kali menulis puisi pada kelas 2 SMA dan sebagian besar masa mudanya diabdikan pada berbagai kegiatan kesenian, diskusi sastra, membaca puisi, siaran sastra di RRI Yogya dan Solo, menyutradarai pementasan drama, main musik dan sebagainya. Sajaknya pertama kali dimuat di ruangan kebudayaan tabloid Pos Minggu, Semarang, tahun 1957. Sejak itu, para penikmat puisi dapat menjumpai puisi-puisinya di berbagai media. Pada tahun 1986, tiga buah esai dan sejumlah sajaknya diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang sebagai salah satu penerbitan sastra dunia. Sejak itu, sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Perancis, Urdu, Hindi, Jerman dan Arab, serta diterbitkan dalam berbagai bunga rampai dan majalah di Negara-negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan Bulan Juni – Sepilihan Sajak terbitan Grasindo, adalah kumpulan sajak-sajak yang ditulisnya dalam rentang waktu 30 tahun, antara 1964 sampai dengan 1994. Puisi-puisi yang ditulisnya banyak diilhami dan tentang manusia; pengalaman mereka, perasaan mereka, karakter mereka dan tentu saja, cinta. Puisi-puisinya yang peka dan melarutkan jiwa-jiwa bercita rasa tinggi ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penuturannya tentang suasana malam di Solo yang tertuang dalam puisinya yang berjudul "Pada Suatu Malam" sebagai pembuka kumpulan sajaknya. Tempat di mana ia lahir dan menghabiskan hampir sebagian besar masa-masa mudanya di Solo. Ia bertutur tentang kematian, kesadaran akan waktu hidup di dunia fana ini yang hanya sebentar dan kenangan  yang ditinggalkan seseorang yang sudah meninggal dalam "Tentang Seorang Penjaga Kubur Yang Mati", "Saat Sebelum Berangkat", "Berjalan Di Belakang Jenazah", "Sehabis Mengantar Jenazah", "Lanskap" dan "Ziarah". Simak saja tuturnya mengenai umur manusia sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua&lt;br /&gt;Waktu hari hampir lengkap, menunggu senja&lt;br /&gt;Putih, kita pun putih memandangnya setia&lt;br /&gt;Sampai habis semua senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungannya pada Sang Pencipta juga menghasilkan puisi-puisi dari perjalanan perenungannya setiap hari; "Dalam Doa I", "Dalam Doa II", "Dalam Doa III", "Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka". Kesadaran betapa ringkihnya jiwa manusia yang awalnya seharum bunga lalu kemudian dapat terjebak dalam nafsu manusiawi yang risau. Di saat kata-kata melebur menjadi cahaya dan berucap doa pada pertemuan dengan Sang Cinta di heningnya malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, ilham yang selalu tak habis-habisnya digali dan  bertaburan dalam bait-bait puisinya. Cinta yang sederhana, yang tak pernah mengharap balasan dan kerap kali menjadi ikon bahasa cinta anak-anak muda terlukis dengan indah, mendalam, menggetarkan jiwa dan tentu saja sederhana dalam "Aku Ingin":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:&lt;br /&gt;Dengan kata yang tak sempat diucapkan&lt;br /&gt;Kayu kepada api yang menjadikannya abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:&lt;br /&gt;Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya lidahpun kelu dan hanya kedalaman rahasia hati insani yang mampu mengomentari puisi indah ini. Begitu pula ungkapan hatinya dalam doa untuk orang yang tercinta pada "Dalam Doaku":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai&lt;br /&gt;mendoakan keselamatanmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana dan menusuk jiwa. Juga puisi-puisinya yang melukiskan agungnya pernikahan, gambaran kesempurnaan insani dalam agama-Nya dalam "Pertemuan" dan "Sajak Perkawinan":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… perkawinan tak dimana pun, tak&lt;br /&gt;kapan pun&lt;br /&gt;kelopak demi kelopak terbuka&lt;br /&gt;malam pun sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dunia yang bak panggung sandiwara inipun tak lepas mengilhami Sapardi untuk menggubah bulir-bulir nyanyian opera menjadi kata-kata penuh makna yang mengejek dunia. Seperti dalam puisinya "Sandiwara I", "Topeng" dan "Sandiwara 2" yang ditulisnya untuk Yudhis dan Putu Wijaya serta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…bahkan ketika suaranya terdengar semakin serak dan lampu&lt;br /&gt;semakin redup – kursi itu tetap bergoyang. Kita, penonton,&lt;br /&gt;harus pulang sebelum sempat lagi ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ungkapan tentang jarak dan waktu dalam pencarian jati diri yang tak lekang dilarung waktu dalam "Sonet:Y", "Jarak", "Sonet:X" dan "Yang Fana Adalah Waktu":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang fana adalah waktu. Kita abadi:&lt;br /&gt;memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga&lt;br /&gt;sampai pada suatu hari&lt;br /&gt;kita lupa untuk apa.&lt;br /&gt;            "Tapi,&lt;br /&gt;yang fana adalah waktu, bukan?"&lt;br /&gt;tanyamu. Kita abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan, yang merupakan tema yang diambil Sapardi dalam bukunya ini, tak pelak lagi menghujani halaman-halaman rumah dunianya. Simak saja dalam "Hujan Dalam Kompisisi, I", "Hujan Dalam komposisi, 2", "Hujan dalam Kompisisi, 3", "Percakapan Malam Hujan" dan "Hujan Bulan Juni" yang umumnya menggambarkan personifikasi luruhnya hujan untuk menyuburkan ranah-ranah kehidupan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang lebih tabah&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dirahasiakannya rintik rindunya&lt;br /&gt;kepada pohon berbunga itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang lebih bijak&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dihapusnya jejak-jejak kakinya&lt;br /&gt;yang ragu-ragu di jalan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang lebih arif&lt;br /&gt;dari hujan bulan juni&lt;br /&gt;dibiarkannya yangtak terucapkan&lt;br /&gt;diserap akar pohon bunga itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari genre, antara ambiguitas dan konvensi puisi, struktur, pemilihan diksi dan kosa kata yang digunakannya, melebur ke dalam jiwa karya-karya Sapardi adalah suatu petualangan yang unik, menambah warna warni pelangi wawasan, menikmati kebebasannya dalam berkata-kata, meresapi renungan-renunganny a dan relasinya dengan Sang Maha Kuasa serta bagaimana menghargai hidup bersama esensinya dengan tanpa khawatir untuk mengawali perubahan itu sendiri. Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini yang terjadi, yang terbuat dan yang terjejak adalah mata air pelajaran yang penuh hikmah dan tidak ada yang sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan turun semalaman&lt;br /&gt;paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;&lt;br /&gt;mereka tidak mengenal gurindam&lt;br /&gt;dan peribahasa, tapi menghayati&lt;br /&gt;adat kita yang purba,&lt;br /&gt;tahu kapan harus berbuat sesuatu&lt;br /&gt;agar kita, manusia, merasa bahagia.&lt;br /&gt;Mereka tidak pernah bisa menguraikan&lt;br /&gt;hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu&lt;br /&gt;kapan harus berbuat sesuatu, agar kita&lt;br /&gt;merasa tidak sepenuhnya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan seorang sahabat kepadaku, "Tenggelam dalam puisi adalah keniscayaan. " Dan niscaya setelah tenggelam dalam hujan bulan juni, rangkaian kisah hidup terkuak, tirai-tirai hujan kehidupan tersibak, hingga akhirnya kita meretas menjadi cahaya di persinggahan sementara ini dalam perjalanan menuju keabadian di dalam birunya samudera jiwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-7109044229140288005?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/7109044229140288005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=7109044229140288005&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7109044229140288005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7109044229140288005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/menyibak-tirai-hujan-bulan-juni-sapardi.html' title='Menyibak Tirai &quot;Hujan Bulan Juni&apos; Sapardi Djoko Damono'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-2224108799192754891</id><published>2008-02-09T12:56:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T12:57:54.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telaah'/><title type='text'>Gairah Kesusastraan di Sumatra Barat</title><content type='html'>Beberapa bulan ke depan, (dengar-dengar kabar) Sumatra Barat rencananya akan menjadi tuan rumah dari "Temu Sastra 5 Kota (Padang, Bali, Bandung, Yogyakarta dan Lampung)"--sebelumnya 4 kota minus Lampung. Kabar ini tidak main-main, elemen kesusastraan terkait seperti Taman Budaya, DKSB, dan komunitas-komunitas sastra sudah bergerak demi tercapainya kesempurnaan acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kesusastraan di Sumatra Barat jika dilihat dengan mata telanjang memang terus-menerus bergerak. Regenerasi penulis-penulis tak ada hentinya, menjadikan Sumatra Barat lahan subur bagi lahirnya bibit-bibit sastrawan. "Semangat dan kontinuitas adalah modal penting jika ingin jadi penulis" begitu yang tampaknya diyakini oleh generasi sastra di wilayah yang juga sering disebut sebagai Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, masih ada yang perlu dikritisi dan dibenahi. &lt;a href="http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&amp;amp;dn=20070114234316"&gt;Tulisan Muhammad Subhan di Kabar Indonesia&lt;/a&gt; mungkin bisa menjadi referensi tentang apa yang mesti dibenahi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Yang sedang saya "tafakuri" saat ini-tepatnya beberapa tahun terakhir-adalah fenomena keringnya kualitas cerpen-cerpen yang dilahirkan penulis Sumatra Barat untuk koran di daerah sendiri. Bahkan yang lebih kering lagi, adalah &lt;strong&gt;minimnya kritik sastra untuk cerpen-cerpen yang muncul di sejumlah koran terbitan Padang.&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat berhuruf tebal di atas itulah yang perlu dibenahi oleh elemen sastra di Sumbar. Apakah cerpen-cerpen (karya sastra lain) yang terbit di Padang memang sebegitu sampahnya hingga tak layak untuk diapresiasi? Atau, apakah yang menulisnya bukan penulis besar seperti Gus Tf, Iyut, Yusrizal KW, Harris Efendi Thahar dll.? Atau, koran-koran di Padang yang dianggap tidak berkualitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditulis oleh Muhammad Subhan juga yang saya pertanyakan kepada elemen sastra di Sumbar. Tentu daftar ini masih akan panjang jika ditambahkan dengan miskinnya proyek buku sastra yang dijalankan. Kalau memang ada, terbatas pada penulis-penulis senior. Kadang-kadang saya berpikir, penulis muda Sumbar memang banyak tetapi tak (kurang) difasilitasi. Jikalau ada fasilitas itu, hanya sekedar perpanjangan tangan dari ide-ide si pemberi fasilitas. Penulis muda pun mandul berkreativitas karena otaknya telah dijajah oleh ide-ide si fasilitator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kurang produktifnya cerpenis-cerpenis Sumbar di "kampoeng" sendiri, menurut hemat saya, karena masih rendahnya penghargaan koran terhadap karya-karya mereka. Penghargaan yang saya maksud, mungkin secara finansial sebagai input "kerja keras" mereka.  Melalui esai ini, saya merasa risih menyebut berapa jumlah honor yang akan diterima penulis untuk setiap cerpen yang dipublikasikan di koran bersangkutan. Artinya, honor untuk cerpenis Sumatra Barat di daerah sendiri masih sangat rendah.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya riskan membicarakan permasalahan ini. Salah-salah langkah bisa di-cap Kapitalis. Dan penulis muda, kebanyakan anti kapitalis. Saya membenarkan apa yang disebut Subhan dengan "input kerja keras". Media di Padang memang belum serius menanggapi keseriusan para penulisnya. "Batu loncatan" adalah esensi yang diyakini sebagian besar penulis. Hal ini sudah jadi rahasia umum di kalangan media tersebut maupun penulis-penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, apakah kesusastraan Sumbar akan tetap dibiarkan seperti ini saja?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-2224108799192754891?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/2224108799192754891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=2224108799192754891&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/2224108799192754891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/2224108799192754891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/gairah-kesusastraan-di-sumatra-barat.html' title='Gairah Kesusastraan di Sumatra Barat'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-3560707235240988947</id><published>2008-02-04T16:19:00.000+07:00</published><updated>2008-02-04T16:33:15.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEKSTIKA'/><title type='text'>TEKSTIKA... HIP-HIP-HOREEE</title><content type='html'>HORE... kebanggaan meliputi perasaan tim redaksi Tekstika. Bayangkan, setelah dua tahun vakum dalam waktu kurang dari satu minggu terakhir dapat merampungkan Edisi perdana. "Semoga tidak (lagi) mati" begitulah kata ketua HMJ dalam maklumatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk edisi cetak, Tekstika hanya mencetak 26 eksemplar. Lo, kok sedikit? Menurut manajer keuangan Tekstika, (Ayu) keuangan yang dipakai untuk mencetak buletin edisi perdana itu adalah uang warisan dari tim redaksi yang lalu. Dana yang ditinggalkan tidaklah banyak, cuma Rp. 40.000.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang, ini jadi kelemahan kita." ujar Pimred yang biasa dipanggil Ucup. "Tetapi, jika penjualan Tekstika laris manis, kemungkinan untuk cetak ulang masih ada. Toh, Februari masih ada 25 hari lagi." Begitulah optimisme petinggi Tekstika yang ditemui Admin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa lebih mempererat jaringan. Walaupun edisi cetak cuma 26, edisi berformat PDF, telah siap menunggu disantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good Luck Tekstika, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARI MENULIS!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-3560707235240988947?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/3560707235240988947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=3560707235240988947&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/3560707235240988947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/3560707235240988947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/tekstika-hip-hip-horeee.html' title='TEKSTIKA... HIP-HIP-HOREEE'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-66318641779063046</id><published>2008-02-04T16:00:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T13:42:50.331+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Himpunan'/><title type='text'>STUKTUR KEPENGURUSAN HMJ (HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN) SASTRA INDONESIA PERIODE 2007/2008</title><content type='html'>KETUA: Esha Tegar Putra (05)&lt;br /&gt;SEKRETARIS: Reno Wulan Sari (05)&lt;br /&gt;BENDAHARA: Ririn (06)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Divisi-divisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kepenulisan: &lt;br /&gt;Koordinator: Sayyid Madany Syani (05)&lt;br /&gt;anggota: Suprianto (05)&lt;br /&gt;Ria Febrina (06)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pertunjukan&lt;br /&gt;Koordinator: A. Andri Saputra (06)&lt;br /&gt;anggota: Suci handayani (06)&lt;br /&gt;Ardison (06)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kemahasiswaan&lt;br /&gt;Koordinator: Beni Rozaldi (06)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Humas&lt;br /&gt;Koordinator: Zulfan Pamela (05)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BULETIN TEKSTIKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Umum: Ketua HMJ Sastra Indonesia&lt;br /&gt;Pimpinan Redaksi: Suprianto&lt;br /&gt;Redaktur Sastra dan Budaya: A. Anda Saputra&lt;br /&gt;Redaktur Berita: Ria Febrina&lt;br /&gt;Lay Out dan Editor: Sayyid Madany Syani&lt;br /&gt;Keuangan: Ayu Paraswati&lt;br /&gt;Reporter: Taufik Hidayat dan Bayu&lt;br /&gt;Koord. Distribusi: Ririn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BLOG HMJ SASTRA INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Admin: SMS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-66318641779063046?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/66318641779063046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=66318641779063046&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/66318641779063046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/66318641779063046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/stuktur-kepengurusan-hmj-himpunan.html' title='STUKTUR KEPENGURUSAN HMJ (HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN) SASTRA INDONESIA PERIODE 2007/2008'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-2379368613245748196</id><published>2008-02-04T13:49:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T11:34:38.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event'/><title type='text'>REVIEW BUKU-BUKU BERKELAS</title><content type='html'>Dalam rangka Launchingnya, &lt;a href="http://karamuntiang.blogspot.com/"&gt;Blog HMJ Sasindo &lt;/a&gt;mengadakan event;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“REVIEW BUKU-BUKU BERKELAS”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda semua diundang menjadi peserta review dan rebut hadiah menarik yang disediakan khusus dari pengelola blog. Review bisa berupa pujian, caci-maki atau apalah namanya(bebas). Ditulis tak kurang dari 4 halaman kuarto tanpa spasi. Nama dan alamat lengkap ditulis pada lembar terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil review dikirimkan lewat email HMJ Sasindo&lt;strong&gt;(karamuntiang@gmail.com)&lt;/strong&gt; selambat-lambatnya 10 April 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul-Judul Buku yang akan di-review:&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bC68wV5mI/AAAAAAAAAA4/4dkt-sdt5IU/s1600-h/4196.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 134px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bC68wV5mI/AAAAAAAAAA4/4dkt-sdt5IU/s200/4196.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163028340823942754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perantau; Kumpulan Cerpen (Gramedia Pustaka Utama, 2007) karya Gus Tf Sakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bD6cwV5nI/AAAAAAAAABA/r_3UXdBpGjo/s1600-h/10-resensi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 98px;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bD6cwV5nI/AAAAAAAAABA/r_3UXdBpGjo/s200/10-resensi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163029431745635954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Penyair Lagi; Kumpulan Puisi (Pustaka Azan, 2007) karya Acep Zamzam Noor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bElcwV5oI/AAAAAAAAABI/NWSlKw7uRIE/s1600-h/dan%2Bhujan%2Bpun%2Bberhenti.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 106px;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bElcwV5oI/AAAAAAAAABI/NWSlKw7uRIE/s200/dan%2Bhujan%2Bpun%2Bberhenti.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163030170480010882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dan Hujan pun Berhenti (Grasindo, 2007) karya Farida Susanty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bE6cwV5pI/AAAAAAAAABQ/tiOai6RcBXQ/s1600-h/5733.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 93px; height: 131px;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bE6cwV5pI/AAAAAAAAABQ/tiOai6RcBXQ/s200/5733.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163030531257263762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rahasia Meede (Mizan, 2007) karya E.S. Ito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bFa8wV5qI/AAAAAAAAABY/EON_1i9YRow/s1600-h/laskar-pelangi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 140px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bFa8wV5qI/AAAAAAAAABY/EON_1i9YRow/s200/laskar-pelangi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163031089603012258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Laskar Pelangi (Bentang Pustaka) karya Andrea Hirata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bGPMwV5rI/AAAAAAAAABg/FDbzG4zAUvM/s1600-h/Ayat-Ayat%2520Cinta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 139px;" src="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bGPMwV5rI/AAAAAAAAABg/FDbzG4zAUvM/s200/Ayat-Ayat%2520Cinta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163031987251177138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ayat-Ayat Cinta (Republika, 2007) karya Habiburrahman El Shirazy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bGdcwV5sI/AAAAAAAAABo/oTHFcn0sMLg/s1600-h/3845.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 103px; height: 132px;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bGdcwV5sI/AAAAAAAAABo/oTHFcn0sMLg/s200/3845.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163032232064313026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalatidha (Gramedia Pustaka Utama) karya Seno Gumira Ajidarma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Paus Merah Jambu (Akar) karya Zen Hae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bHQMwV5uI/AAAAAAAAAB4/BIWECMfVDFk/s1600-h/4170.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 138px;" src="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bHQMwV5uI/AAAAAAAAAB4/BIWECMfVDFk/s200/4170.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163033103942674146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepada Cium (Gramedia Pustaka Utama) karya Joko Pinurbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bHf8wV5vI/AAAAAAAAACA/x4LUAt_xQxM/s1600-h/hubbu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 165px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bHf8wV5vI/AAAAAAAAACA/x4LUAt_xQxM/s200/hubbu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163033374525613810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hubbu (Gramedia Pustaka Utama) karya Mashuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bHzMwV5wI/AAAAAAAAACI/U48qQLePYiM/s1600-h/5462.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 105px; height: 146px;" src="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bHzMwV5wI/AAAAAAAAACI/U48qQLePYiM/s200/5462.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163033705238095618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tahun Kesunyian (Bentang Pustaka, 2007) karya Gabriel Garcia Marquez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bIecwV5xI/AAAAAAAAACQ/y2_UyPrKz08/s1600-h/The%2520Lord%2520of%2520the%2520Rings_The%2520Fellowship%2520of%2520the%2520Ring.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 135px;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bIecwV5xI/AAAAAAAAACQ/y2_UyPrKz08/s200/The%2520Lord%2520of%2520the%2520Rings_The%2520Fellowship%2520of%2520the%2520Ring.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163034448267437842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bI1MwV5yI/AAAAAAAAACY/Uuq1_tPQMLk/s1600-h/The%2520Lord%2520of%2520The%2520Rings_The%2520Two%2520Towers.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 95px; height: 138px;" src="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bI1MwV5yI/AAAAAAAAACY/Uuq1_tPQMLk/s200/The%2520Lord%2520of%2520The%2520Rings_The%2520Two%2520Towers.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163034839109461794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bJM8wV5zI/AAAAAAAAACg/11FioT7eA44/s1600-h/GM40203033.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 97px; height: 149px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bJM8wV5zI/AAAAAAAAACg/11FioT7eA44/s200/GM40203033.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163035247131354930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Trilogi Lord of The Ring (Gramedia Pustaka Utama) karya J.R.R. Tolkien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bJ_8wV50I/AAAAAAAAACo/SS1J_CrWHYk/s1600-h/4691.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 151px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bJ_8wV50I/AAAAAAAAACo/SS1J_CrWHYk/s200/4691.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163036123304683330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;My Salwa My Palestine (Mizania) karya Ibrahim Fawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bKT8wV51I/AAAAAAAAACw/UzCcmNmwgVI/s1600-h/4970.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 112px; height: 157px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bKT8wV51I/AAAAAAAAACw/UzCcmNmwgVI/s200/4970.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163036466902067026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sky Burial; Pemakaman Langit (Serambi) karya Xinran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bKo8wV52I/AAAAAAAAAC4/gWAPn1VLKVI/s1600-h/979-461-257-8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 162px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bKo8wV52I/AAAAAAAAAC4/gWAPn1VLKVI/s200/979-461-257-8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163036827679319906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salju Kilimanjaro (Obor) karya Ernest Hemingway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bK38wV53I/AAAAAAAAADA/71QC_Nsxbf8/s1600-h/2461.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 148px;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bK38wV53I/AAAAAAAAADA/71QC_Nsxbf8/s200/2461.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163037085377357682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Musashi (Gramedia Pustaka Utama) karya Eiji Yoshikawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bLWcwV54I/AAAAAAAAADI/wHVtrmmHjSs/s1600-h/My%2520Name%2520is%2520Red.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 145px;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bLWcwV54I/AAAAAAAAADI/wHVtrmmHjSs/s200/My%2520Name%2520is%2520Red.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163037609363367810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;My Name Is Red (Serambi) karya Orhan Pamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bMBswV55I/AAAAAAAAADQ/C3EKVLk0BLM/s1600-h/3926.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bMBswV55I/AAAAAAAAADQ/C3EKVLk0BLM/s200/3926.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163038352392710034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bMccwV57I/AAAAAAAAADg/21KvFMobFeI/s1600-h/4419.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bMccwV57I/AAAAAAAAADg/21KvFMobFeI/s200/4419.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163038811954210738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anna Karenina; I &amp;amp; II (Kepustakaan Populer Gramedia) karya Leo Tolstoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bM5swV58I/AAAAAAAAADo/UMPlqh4Nuyo/s1600-h/FKVP3203big.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 168px;" src="http://bp3.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bM5swV58I/AAAAAAAAADo/UMPlqh4Nuyo/s200/FKVP3203big.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163039314465384386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The Alchemist (gramedia Pustaka Utama) karya Paulo Coelho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bNZMwV5-I/AAAAAAAAAD4/Vi1lwrhXZoQ/s1600-h/3879.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 103px; height: 134px;" src="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bNZMwV5-I/AAAAAAAAAD4/Vi1lwrhXZoQ/s200/3879.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163039855631263714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The Historian (Gramedia Pustaka Utama) karya Elizabeth Kostova. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran pengelola blog; “Sering-sering berkunjung kemari agar&lt;br /&gt;tak ketinggalan informasi baru mengenai event ini.”&lt;br /&gt;SELAMAT MENULIS!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-2379368613245748196?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/2379368613245748196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=2379368613245748196&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/2379368613245748196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/2379368613245748196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/02/review-buku-buku-berkelas.html' title='REVIEW BUKU-BUKU BERKELAS'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R6bC68wV5mI/AAAAAAAAAA4/4dkt-sdt5IU/s72-c/4196.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-7821327540633396159</id><published>2008-01-26T15:59:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T16:10:39.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TEKSTIKA'/><title type='text'>TEKSTIKA</title><content type='html'>Soon!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-7821327540633396159?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/7821327540633396159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=7821327540633396159&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7821327540633396159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7821327540633396159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/tekstika.html' title='TEKSTIKA'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-1312193373793365872</id><published>2008-01-26T14:54:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T15:34:52.710+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Admin'/><title type='text'>PESAN-PESAN ADMIN</title><content type='html'>CUKUP berbangga juga sama blog ini. Belum di "Launching" saja pengunjungnya sudah mencapai 100-an lebih. Memang, kalau diukur dengan blog seleb yang lain misalnya webersis.com, blog ini masih kalah jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa komentar yang masuk menjurus kepada kritikan mengapa sampai sekarang blog ini sepertinya tak terkelola dengan baik. Hmmmm... Saya (SMS) sebagai Admin perlu menjernihkan dulu. Sebab, blog ini belum di launching. Rencananya akan digeber bersamaan dengan Tekstika awal Februari 2008. Setelah itu, tunggu saja terobosan-terobosan baru yang akan dilahirkan oleh blog ini. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Tekstika juga sedang membanting tulang agar buletin kebanggaan HMJ itu laik terbit awal Februari nanti. Kemarin saja, ketika orang-orang pada ambil jatah liburan semesternya, kru Tekstika yang digawangi Suprianto (Ucup 05), Taufik (Unjuik 06), Bayu 06, dan Sayyid 05 sibuk mencari berita. Tugas telah diberikan oleh Pimred kepada masing-masing anggota. Taufik dan Bayu menjadi reporter kampus sekaligus berita sastra. Sayyid sebagai editor, Lay out dan percetakan. Sedangkan Ucup walaupun sebagai Pimred tidak lantas ongkang-ongkang kaki saja. Ia siap menjadi distributor buletin itu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tak ada kata istirahat rupanya bagi kru Tekstika yang berada di bawah Divisi Kepenulisan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mari kita beri spirit kepada mereka, agar Tekstika tidak mogok lagi jalannya seperti beberapa tahun belakangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ADMIN; SMS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan Sastra Mazhab Selangkangan Lo :P&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-1312193373793365872?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/1312193373793365872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=1312193373793365872&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/1312193373793365872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/1312193373793365872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/pesan-pesan-admin.html' title='PESAN-PESAN ADMIN'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-6855142865431518461</id><published>2008-01-11T16:10:00.000+07:00</published><updated>2008-01-19T14:49:49.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>PUISI MUHAMMAD IKHSAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan dari Serambi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-sebuah reportoar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi itu, sayang&lt;br /&gt;selepas malam kita habiskan cumbu dalam mesra,&lt;br /&gt;angin akhir tahun yang kering&lt;br /&gt;membentangkan kegelisahan di kotamu                                     &lt;br /&gt;                          di tanah yang disakralkan&lt;br /&gt;berkelindan dalam ritual kecemasan.&lt;br /&gt;lalu waktu mengajak kita dalam hitungan yang menyakitkan&lt;br /&gt;menit-menit begitu sesak&lt;br /&gt;antar pada pertemuan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi itu, sayang&lt;br /&gt;telah kuhapalkan senyummu yang sunyi&lt;br /&gt;dan kusam tawamu pada embun pagi,&lt;br /&gt;pada setiap kelok jalan dan persimpangan.&lt;br /&gt;pergilah dengan kasih dari tanah kepedihan&lt;br /&gt;karena Dia akan menunggumu di sebuah padang tua&lt;br /&gt;                 :padang yang tak pernah urung menghadirkan&lt;br /&gt;                  kenangan pada rimpel-rimpel rindu&lt;br /&gt;                  kampung halaman yang musnah&lt;br /&gt;                 :padang yang mengalir air sungai di bawahnya&lt;br /&gt;                  tertitah dalam kitab suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Dia akan mencumbumu lebih mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jambi, februari 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-6855142865431518461?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/6855142865431518461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=6855142865431518461&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/6855142865431518461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/6855142865431518461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/puisi-muhammad-ikhsan-catatan-dari.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;PUISI MUHAMMAD IKHSAN&lt;/span&gt;'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-8698013320742846839</id><published>2008-01-08T15:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T15:06:58.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>RUDOLF PUSPA INGIN MENYUTRADARAI PEMENTASAN TEATER LANGKAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAM&lt;/strong&gt; delapan malam 31 desember 2007 Padang sudah begitu riuh. bagaimana tidak, malam pertukaran tahun membuat warga kota padang berhamburan ke luar rumah mencari tempat untuk menghabiskan malam. Laju kendaraan membuat jalanan seputar kota padang macet, sepanjang pantai padang dipenuhi beragam orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah ketua teater langkah (pinto Anugrah) dan beberapa orang anggota (reno wulan sari, zulfan Pamela, esha tegar putra) diundang oleh Dekan dan PD III fakultas sastra untuk menghadiri jamuan makan malam di rumah makan simpang raya. Meja telah berjajar pangang, hidangan pun telah tersedia, dan ternyata undangan tersebut merupakan pembahasan tentang Rudolf Puspa (sutradara teater keliling) menawarkan kerjasama dengan teater langkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring makan malam tersebut pembicaraan terus berlansung, dari cerita politik, permasalahan dunia teater, sampai pada tujuan makan malam ini; bahwa Rudol puspa menginginkan kerjasama dengan teater langkah, dengan cara menyutradarai sebuah proses pementasan. Hidangan telah selesai di makan. Jam telah menunjukkan bahwasanya tahun akan segera bertukar, riuh kendaraan makin menjadi-jadi terdengar. Dan keputusan belum juga dimabil: apakah keputusan kerjasama dengan rulof puspa disetujui oleh dekan dan PD III? &lt;em&gt;(dok/HMJ)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-8698013320742846839?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/8698013320742846839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=8698013320742846839&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/8698013320742846839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/8698013320742846839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/rudolf-puspa-ingin-menyutradarai.html' title='RUDOLF PUSPA INGIN MENYUTRADARAI PEMENTASAN TEATER LANGKAH'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-1959819970792278128</id><published>2008-01-08T15:04:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T15:08:02.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>LATIHAN ALAM DASAR (LAD) SASTRA INDONESIA KAPAN?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;RENCANA&lt;/strong&gt; LAD (baca; latihan alam dasar) teater dan kepenulisan bagi mahasiswa baru angkatan 2007/2008 diundur sampai bulan Februari. “jika diadakan dalam semester I (ganjil) bapak tidak akan bertanggung jawab, tapi buatlah acara itu pada awal semester II (genap) dan bapak akan mempertanggung jawabkannya”. Ungkap bapak Zulqayim pembantu dekan III fakultas sastra Unand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhalangnya acara LAD--menurut rencana panitia diadakan bulan Januari 2008—adalah kebijakan pihak Rektorat yang tidak memberikan izin untuk emgadakan acara yang sifatnya “bersentuhan” dengan anak baru, apalagi acara yang bermalam di luar lingkungan kampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal LAD sastra Indonesia bukanlah jenis acara perpeloncoan (ala Ospek) terhadap mahasiswa baru. LAD merupakan bagian dari sistem mata kuliah (drama dan kepenulisan) yang ada di jurusan sastra Indonesia, LAD merupakan dasar bagi mahasiswa baru. Adapun materi dalam LAD tersebut adalah meteri-materi mengenai teater; keaktoran, manajemen pertunjukan,dll. Serat materi-materi kepenulisan; penulisan fiksi (cerpen, puisi, naskah drama), kepulisan kreastif (artikel, essay,dll). “jika mereka tidak diberikan dasar itu, maka mereka akan keget dan bingung, ketika menghadapi perkuliahan di sastra Indonesia yang banyak berhubungan dengan materi-materi di LAD” ungkap Nofrizal, ketua pelaksana LAD 2008. &lt;strong&gt;(dok/HMJ)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-1959819970792278128?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/1959819970792278128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=1959819970792278128&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/1959819970792278128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/1959819970792278128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/latihan-alam-dasar-lad-sastra-indonesia.html' title='LATIHAN ALAM DASAR (LAD) SASTRA INDONESIA KAPAN?'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-4185353776473594206</id><published>2008-01-08T14:31:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T14:33:31.488+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telaah'/><title type='text'>Sastra, Metafora dalam Dunia(nya)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ADALAH&lt;/strong&gt; kekeliruan ketika orang-orang menyebut sastra, dunia yang penuh dengan kesunyian, dunia yang menyepi sendiri. Sastra penuh dengan keramaian, penuh dengan keriuhan. Yang dianggap sunyi  itu mungkin proses dari penciptaan karya sastra, di mana seseorang (di antara ribuan) sastrawan menciptakan karya dengan membangun dunianya sendiri. Dunia yang terpaksa disepikan untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat bagi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah perkembangan kesusastraan (baca; dunia sastra) di Indonesia telah panjang. Sejarah yang ingin selalu meraih kebebasannya sendiri, mendapatkan tempatnya sendiri, dan menolak segala pengekangan terhadap sebuah proses. Itu merupakan hal yang lazim. Menciptakan sebuah karya akan baik jika proses itu terbangun jauh dari pengekangan terhadap ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra merupakan jawaban dari sekian banyak kesakitan, jawaban kesenangan, cinta, dunia, perang, mimpi, dan segala hal yang menyangkut rasa. Tidak salah jika Arif bagus Prasetyo (2005:104) menyatakan serupa ini tentang sastra di Indonesia—perspektif terhadap seorang penyair: atas nama sebentuk peradaban impian nan gemilang di masa depan, sejarah hadir sebagai suksesi momen-momen kudus tatkala rasio dan utopia ditubuhkan dalam tindakan. Namun itulah arak-arakan yang penuh luka dan trauma di sepanjang lintasannya: tumbuhnya nasionalisme, revolusi 1945, prahara 1965 dan, tentu saja, bangkitnya rezim otoriter pembangunan. Sejarah tidak lain sebagai area konflik yang mencabik-cabik tubuh masyarakat dalam berbagai kontradiksi sosial-politik. Penyair datang membawa kabar penyembuhan bagi kontradiksi ini. Ditawarkannya sepetak tanah suaka ideal yang melindungi masyarakat dari horor perubahan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Arif membaca sejarah sastra di Indonesia. sastra yang selalu berhubungan dengan masyarakat tempatnya berkembang. Sastra yang penuh dengan “warna” campuran antara masalah dan perdebatan. Tapi itu merupakan sejarah yang dibaca dan telah terbaca. Dan akan selalu menjadi tonggak, atau setidaknya penopang bagi perkembangan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari sekian banyak karya sastra yang lahir dari tangan ratusan (mungkin ribuan) sastrawan, dari pusat sampai ke daerah pelosok di Indonesia. Sekian banyak yang terbit di koran-koran setiap Minggunya. Dan setiap tahunnya sekian buku karya sastra diterbitkan—walau di balik semua itu banyak juga karya yang tercecer dan tidak mendapatkan tempat (dan terkadang mencari tempatnya sendiri). Itulah sastra, dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk pemikiran tentang segala hal. Sastra yang hidup dengan metafor-metafor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat tulisan bapak Fadlillah Malin Sutan Kayo Akhir Tahun di Negeri Senja, pada Sastra (Singgalang Minggu, 6 Januari 2008) dan saya ingin menyangkutkan dengan tulisan ini—tentang sastra dan metafora. Fadlillah membahas tentang Barat dan Timur, lalu menyulam tulisannya dengan metafora dari cerpen Seno Gumira Ajidarma (2003) yang memakai metafora Negeri Senja. Metafora yang dianggap sebentuk pola, cara pandang, visi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...Pola negeri senja, dapat dipahami pada putaran waktu pada masa tua, namun tragiknya, waktu itu tidak berputar, waktu itu menetap, tidak ada satu orang tokoh, kelompok, kaum, tapi pada satu negeri. Pola  budaya negeri senja itu berkuasa pada suatu negeri, budaya, politik, sehingga masa depan tidak ada di negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah (karya sastra) bermain dengan metafor-metafornya. Penciptaan dunia sendiri dari realitas yang tidak bisa diterima dengan akal dimainkan dengan rasa, dengan penyelipan berbagai mediasi benda hidup ataupun tidak (metafora). Dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, dari peralihan ke peralihan yang menimbulkan guncangnya kebudayaan. Sastra tetap hadir melawan pesimistis dari realitas yang mengungkung kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu terjadi sebuah peralihan lagi (dan akan tetap begitu seterusnya), peralihan dari tahun 2007 ke 2008. peralihan itu (bagi dunia sastra) hanya sebuah konteks waktu yang membuat dunia sastra itu menemukan hal-hal yang baru, tanpa meninggalkan yang lama. Konteks hanya akan mengganti sebuah kolofon, mengganti penanda, penanggalan pada sebuah karya. Mungkin akan bermunculan lagi puluhan (bahkan ratusan) sastrawan dengan ribuan karya pada tahun ini—dan semoga saja begitu setiap tahunnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akankah karya yang lahir itu hanya sebuah manifestasi, atau eksistensi, dari seorang sastrawan? Akankah dunia yang dianggap sunyi—padahal hiruk-pikuk itu tetap saja terjadi—itu menjadikan kesunyian berlanjut bagi masyarakat sastra karena tidak adanya sebuah “pencapaian” dalam karya sastra? Tetap saja sastra akan begitu, karya melahir, dibaca, dikritik (mungkin juga tidak) dan wacana baru. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Kesusastraan hidup dalam pikiran. Di dalam sejarah kemanusiaan yang panjang, kebenaran dalam sastra akhirnya akan menjulang dengan sendirinya, di tengah hiruk-pikuk macam apa pun yang diprogram secara terperinci lewat media komunikasi massa. Rekayasa media massa yang paling canggih pun akan cepat lumer seperti es krim, namun kesusastraan yang ditulis di atas kertas cebok di padang-padang pengasingan, dari Buru sampai Siberia, dari detik ke detik memunculkan dirinya, bicara dalam segala bahasa di delapan penjuru angin (2005 : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernyataan di atas ini bukanlah perlawanan seorang sastrawan, ungkap Seno Gumira Ajidarma. Tapi setidaknya kalimat ini telah mengungkapkan perihal sastra dan dunianya. dunia yang akan terus bergerak, di dalam pikiran. Meski hanya dengan “bergumam”, sastra akan terus menyampaikan sesuatu dengan karya-karya. dan semoga saja tahun ini (juga selanjutnya) akan bertebaran terus karya-karya sastra, walau hiruk-pikuk berbagi permasalahan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan metafor-metafor yang bertebaran, serupa air laut dan asin. Jika dipisah menjadikan sesuatu yang lain, sesuatu yang (c)air, tapi bukan air laut. Jika berbagai persoalan realitas menjadi sebuah jeruji, di dalam itulah sastra akan bermain. Dunia yang akan tercipta dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandangpadati, Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*)  Esha Tegar Putra adalah ketua HMJ Sastra Indonesia UNAND. Bergiat di Komunitas Daun dan Aktor Ranah Teater Padang. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-4185353776473594206?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/4185353776473594206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=4185353776473594206&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4185353776473594206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4185353776473594206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/sastra-metafora-dalam-dunianya.html' title='Sastra, Metafora dalam Dunia(nya)'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-565401737969872114</id><published>2008-01-08T14:26:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T14:29:06.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Sajak-sajak Andri Anda Saputra</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Relief di Puncak Bukit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di puncak bukit sekumpulan semak&lt;br /&gt;telah lupa jadi pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertahun hidup&lt;br /&gt;menggambar jejak yang lembab&lt;br /&gt;di bawah musim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika tahun-tahun menjadi kering&lt;br /&gt;ia menjelma wajah bisu burung-burung, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menatap kepergian awan&lt;br /&gt;dari utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandangpadati, 2007&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relief di Jalan Pulang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;patung-patung debu&lt;br /&gt;yang pecah dari batu&lt;br /&gt;yang lahir di ujung gagu&lt;br /&gt;tegak menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di balik udara padat&lt;br /&gt;berbagi tubuh&lt;br /&gt;menempuh ruh&lt;br /&gt;yang luruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandangpadati, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relief di Kota&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dini hari terasa lebih dingin. orang-orang&lt;br /&gt;kembali jadi batu di rumah-rumah tanpa lampu.&lt;br /&gt;di ujung gang, bulan pecah melolong panjang&lt;br /&gt;menyembur jalan-jalan. di mata pengembara,&lt;br /&gt;sebuah ladang perburuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandangpadati, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relief dari Bukit Lampu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kita berkejaran mencuri maksud di antara pintal ombak&lt;br /&gt;di bawah bayangan nujum badan kapal yang pernah karam&lt;br /&gt;sebuah kisah kita turunkan dari layar,&lt;br /&gt;kisah yang seusia bukit berpanah pendar,&lt;br /&gt;bukit yang dulu lerai dari ingatan,&lt;br /&gt;yang bermusim-musim menjadi isyarat atas angin dan hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kita pun sampai ketika lereng runtuh jadi tepian&lt;br /&gt;lewat dengung angin yang terasa makin rampai&lt;br /&gt;lewat isak air yang terus menampar sakit pelabuhan&lt;br /&gt;menggulung perih berpaut sepi pantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kita tak henti berkejaran&lt;br /&gt;menghalau nujum sekoci yang lepas saat buritan akhirnya tertelan&lt;br /&gt;membawa sepeti kisah larung ke palung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kitalah yang menimbun tubuh dalam pasir&lt;br /&gt;saat teluk mengendap kisah pelayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandangpadati, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 06.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-565401737969872114?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/565401737969872114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=565401737969872114&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/565401737969872114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/565401737969872114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/sajak-sajak-andri-anda-saputra.html' title='Sajak-sajak Andri Anda Saputra'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-4707204416689142535</id><published>2008-01-08T14:23:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T14:25:55.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seputar Sastra'/><title type='text'>Desember, Musim Berlabuhnya Seorang Penyair</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R4MlNrX2JoI/AAAAAAAAAAo/c8ff3eYsIHo/s1600-h/iyut.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R4MlNrX2JoI/AAAAAAAAAAo/c8ff3eYsIHo/s320/iyut.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153003315553248898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini aku hanya sendiri, sayang&lt;br /&gt;tidak seperti hari-hari lain, dadamu kau selimutkan&lt;br /&gt;untuk segala gelisahku, kemudian kau bisikkan tentang bunga&lt;br /&gt;tiga tetes darah yang melukis sore sebagai mainan kita&lt;br /&gt;lalu di tungku, separuh kantuk kau siapkan aku&lt;br /&gt;segelas kopi, kita meneguk pagi yang alangkah gairah itu&lt;br /&gt;"aku akan menabung jantung, demi benih yang&lt;br /&gt;kau khayalkan sepanjang malam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Iyut Fitra, Kangen. Pikiran Rakyat 10/11/2007)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payakumbuh, 26 Desember 2007 seketika hujan mereda. Sebuah pelaminan berhias lengkap di halaman rumah gadang berdiri dengan eloknya. Pelaminan berwarna merah berhiaskan manik-manik emas. Di sanalah, Iyut Fitra (penyair) dan Zarni Jamila (penari) duduk saling senyum. Sering terlihat canda dari marapulai dan anak daro, dalam canda orang memperhatikan mereka sebagai pasangan yang beruntung. Sebab apa? Desember yang biasa hujan itu tampak cerah dari pagi sampai malam, usai perhelatan yang diadakan di maskas komunitas seni Intro tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali terlihat Iyut membereskan suntiang yang dipakai anak daronya tersangkut rumbai-rumbai pelaminan sewaktu mereka berdiri menyalami tamu-tamu yang berdatangan. Sementara tamu makan, bersalaman, di depan musisi-musisi muda intro menyanyikan lagu, dari lagu Minang ke lagu barat, dari lagu slow ke lagu rock. Dan juga terlihat para penanti tamu sibuk membagikan sebuah buku kumpulan puisii yang berjudul Pelabuhan Desember. “Kumpulan puisi tersebut isinya adalh kado dari kawan-kawan penyair” ungkap iyut. Dan memang, isi buku kumpulan tersebut beragam, dari penyair Sutardji, Afrizal Malna, Goenawan Mhammad, sapardi, Rusli Marzuki saria, sampai penyair-penyair muda yang akhir-akhir ini mangkal di koran-koran nasional ikut nimbrung di buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana makin ramai. Dentingan piring dan sendok terdengar dari meja tamu, dari tempat pencucian piring , dan dari panggung juga terdengar beberapa penyair yang datang membacakan puisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah Iyut Fitra melabuhkan hidupnya dengan Zarni jamila pada 26 Desember 2007.  Di payokumbuh, tanah kelahirannya. Tempat ia berproses dalam dunia kepenyairannya. Semoga pernikahan ini adalah pelabuhan, tempat kegelisahan dikadukan, tempat senang dibagikan. Dan selamat atas pernikahannya. Semoga menjadi pasangan yang saling merindu, saling mencinta, sampai pad waktu yang tak berbatas. &lt;strong&gt;(dok/HMJ)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-4707204416689142535?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/4707204416689142535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=4707204416689142535&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4707204416689142535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/4707204416689142535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/desember-musim-berlabuhnya-seorang.html' title='Desember, Musim Berlabuhnya Seorang Penyair'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R4MlNrX2JoI/AAAAAAAAAAo/c8ff3eYsIHo/s72-c/iyut.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-1416665151337977625</id><published>2008-01-08T14:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T14:20:55.865+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Seputar Sastra'/><title type='text'>Mengenai Temu Penyair Muda 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R4MkLbX2JnI/AAAAAAAAAAg/bG7iUedLeeg/s1600-h/hujan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R4MkLbX2JnI/AAAAAAAAAAg/bG7iUedLeeg/s320/hujan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153002177386915442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HERBARIUM&lt;/strong&gt;, itulah nama antologi puisi dari pertemuan beberapa penyair muda empat kota—Yogya, Padang, Bali, Bandung—Februari 2007. Acara tersebut digelar selama tiga hari di Taman Budaya Yogya dan digagas oleh komunitas Rumah Poetika Yogya. Dan kabarnya dalam bulan April tahun ini acara temu Penyair Muda Empat Kota akan segera diadakan di Sumatera Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada kepastian yang jelas dari panitia acara tentang acara yang kemungkinan besar di adakan di Taeh (Payokumbuh) akan mengalami penambahan bebarapa bebrapa kota lagi. Yang jelas ini adalah sebuah ruang apresiasi, tempat para penyair muda berjumpa, berdiskusi, dan bersilaturahmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nama-nama penyair muda dari Sumbar yang masuk pada proyek antologi Temu Penyair Muda Empat Kota (HERBARIUM) Pada temu penyair empat kota tahun lalu di antaranya: Ragdi F. Daye. Chairan Hafzan Yurma, Pinto Anugrah, Esha Tegar Putra, Fadhilla Ramadona, Risa Syukria, Joko Nugroho, Beny S, Iggoy El Fitra. Siapakah penyair-penyair muda sumbar yang bakal diundang pada pertemuan kalii ini? Siapa pun yang diundang, yang jelas, apa sumbangsih acara ini bagii masyarakat, proses pematangan kepenyairan, serta dalam peta kesusatraan di Indonesia (khususnya perpuisian Indonesia). Semoga saja acara ini terlaksana dengan baik dan banyak kemunculan nama-nama baru di ranah perpuisian, baik di daerah (Sumbar) atau di jagat perpuisian Indonesia. (Info/HMJ)&lt;br /&gt;HERBARIUM, itulah nama antologi puisi dari pertemuan beberapa penyair muda empat kota—Yogya, Padang, Bali, Bandung—Februari 2007. Acara tersebut digelar selama tiga hari di Taman Budaya Yogya dan digagas oleh komunitas Rumah Poetika Yogya. Dan kabarnya dalam bulan April tahun ini acara temu Penyair Muda Empat Kota akan segera diadakan di Sumatera Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada kepastian yang jelas dari panitia acara tentang acara yang kemungkinan besar di adakan di Taeh (Payokumbuh) akan mengalami penambahan bebarapa bebrapa kota lagi. Yang jelas ini adalah sebuah ruang apresiasi, tempat para penyair muda berjumpa, berdiskusi, dan bersilaturahmi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nama-nama penyair muda dari Sumbar yang masuk pada proyek antologi Temu Penyair Muda Empat Kota (HERBARIUM) Pada temu penyair empat kota tahun lalu di antaranya: Ragdi F. Daye. Chairan Hafzan Yurma, Pinto Anugrah, Esha Tegar Putra, Fadhilla Ramadona, Risa Syukria, Joko Nugroho, Beny S, Iggoy El Fitra. Siapakah penyair-penyair muda sumbar yang bakal diundang pada pertemuan kalii ini? Siapa pun yang diundang, yang jelas, apa sumbangsih acara ini bagii masyarakat, proses pematangan kepenyairan, serta dalam peta kesusatraan di Indonesia (khususnya perpuisian Indonesia). Semoga saja acara ini terlaksana dengan baik dan banyak kemunculan nama-nama baru di ranah perpuisian, baik di daerah (Sumbar) atau di jagat perpuisian Indonesia. &lt;strong&gt;(Info/HMJ)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-1416665151337977625?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/1416665151337977625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=1416665151337977625&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/1416665151337977625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/1416665151337977625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/mengenai-temu-penyair-muda-2008.html' title='Mengenai Temu Penyair Muda 2008'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_nsMZvBzyLQA/R4MkLbX2JnI/AAAAAAAAAAg/bG7iUedLeeg/s72-c/hujan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6024516567985303610.post-7435009237261472229</id><published>2008-01-02T21:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T21:42:35.323+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Telaah'/><title type='text'>Sastra Harus Kembali ke Fitrahnya</title><content type='html'>Dianing Widya Yudhistira tidak pernah menduga Sintren,&lt;br /&gt;novel debutan awalnya, akan masuk ke dalam jajaran&lt;br /&gt;nominator peraih anugeran sastra Khatulistiwa 2007.&lt;br /&gt;Banyak orang menduga ia menulis Sintren karena&lt;br /&gt;terinspirasi dari Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad&lt;br /&gt;Tohari. Tapi ternyata tidak demikian adanya. Batang,&lt;br /&gt;Pekalongan, tempat kelahirannya memberi Dian inspirasi&lt;br /&gt;untuk menulis Sintren dengan beragam masalah yang&lt;br /&gt;menyelubunginya: mulai dari soal kesenian daerah yang&lt;br /&gt;telah punah, perjuangan perempuan, sampai dengan&lt;br /&gt;kemiskinan yang melilit masyarakat di sana. Dianing&lt;br /&gt;menuturkan gagasan serta saujananya tentang sastra dan&lt;br /&gt;kebudayaan kepada Jurnal Nasional di sela-sela&lt;br /&gt;kesibukannnya merampungkan novel terbarunya.&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda, melalui novel Sintren, dinominasikan sebagai&lt;br /&gt;penerima anugerah sastra&lt;br /&gt;Khatulistiwa pada tahun ini. Bagaimana perasaan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, saya senang sekali. Saya berharap dapat memenangi&lt;br /&gt;anugerah itu setelah&lt;br /&gt;berkali-kali cuma sampai tahap nominator saja. Naskah&lt;br /&gt;novel saya yang&lt;br /&gt;berjudul Weton cuma jadi finalis di DKJ (Dewan&lt;br /&gt;Kesenian Jakarta). Moga-moga&lt;br /&gt;sekarang saya bisa meraih Khatulistiwa, doakan ya,&lt;br /&gt;mas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiahnya cukup besar, akan Anda apakan jika menang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, semoga menang. Hadiahnya untuk pendidikan&lt;br /&gt;anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara banyak penulis perempuan mengangkat tema&lt;br /&gt;seksualitas, bisa Anda&lt;br /&gt;ceritakan kenapa mengangkat tema sintren ke dalam&lt;br /&gt;novel Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan budaya lokal yang kini perlahan&lt;br /&gt;sudah mulai punah.&lt;br /&gt;Lagipula sintren kini sudah jarang, bahkan sudah tak&lt;br /&gt;ada lagi di daerah saya.&lt;br /&gt;Kebetulan saya dilahirkan dan besar di Batang,&lt;br /&gt;Pekalongan. Dulu waktu masih&lt;br /&gt;SD, saya masih bisa nonton sintren. Tapi sekarang&lt;br /&gt;sintren tidak ada lagi.&lt;br /&gt;Yang ada malah cafe-cafe yang mulai menjamur. Bisa&lt;br /&gt;dikatakan generasi seumur&lt;br /&gt;anak saya praktis sudah tak bisa lagi menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian apa yang Anda hendak sampaikan kepada&lt;br /&gt;pembaca dengan segala&lt;br /&gt;macam problematika kebudayaan lokal yang Anda katakan&lt;br /&gt;mulai punah tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novel itu saya ingin mengatakan kepada pembaca&lt;br /&gt;tentang tiga hal, pertama&lt;br /&gt;tentang kebudayaan lokal itu sendiri, tentang&lt;br /&gt;perjuangan perempuan dan juga&lt;br /&gt;kemiskinan yang menjerat masyarakat, khususnya yang&lt;br /&gt;berada di sana karena&lt;br /&gt;lingkungan sekitar didominasi oleh kelompok marjinal&lt;br /&gt;seperti nelayan, buruh,&lt;br /&gt;petani dan lain sebagainya. Karena di sana, di Batang,&lt;br /&gt;lingkungan nelayan&lt;br /&gt;yang sampai kini masih terlilit kemiskinan. Kemudian&lt;br /&gt;saya juga ingin&lt;br /&gt;membangkitkan kembali sintren, siapa tahu karena&lt;br /&gt;membaca karya saya ada&lt;br /&gt;pembaca yang tertarik untuk menghidupkan sintren lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghidupkan Sintren atau mengangkat derajat&lt;br /&gt;masyarakat dari kemiskinan? Atau&lt;br /&gt;kedua-duanya sama Anda anggap penting dalam novel&lt;br /&gt;Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, dua-duanya penting. Kemiskinan itu sangat&lt;br /&gt;menyakitkan dan saya ingin&lt;br /&gt;kemiskinan yang diderita masyarakat itu harus terus&lt;br /&gt;diperjuangkan supaya&lt;br /&gt;beranjak ke taraf yang lebih baik. Tokoh novel saya,&lt;br /&gt;Saraswati itu kan tokoh&lt;br /&gt;yang miskin, melalui itu saya ingin katakan bahwa di&lt;br /&gt;sana, di daerah,&lt;br /&gt;kemiskinan itu adalah hal yang nyata, yang benar-benar&lt;br /&gt;terjadi. Berbeda&lt;br /&gt;dengan Jakarta, di mana kekayaan menjadi pemandangan&lt;br /&gt;sehari-hari,&lt;br /&gt;gedung-gedung bertingkat berdiri megah dan mobil-mobil&lt;br /&gt;mewah berseliweran.&lt;br /&gt;Semua itu biasa di sini. Bahkan kelas menengah kini&lt;br /&gt;sudah ikut miskin.&lt;br /&gt;Begitulah kenyataan masyarakat yang saya tuangkan ke&lt;br /&gt;dalam novel saya.&lt;br /&gt;Melalui tokoh Saraswati itu, dia seorang perempuan&lt;br /&gt;yang memiliki cita-cita&lt;br /&gt;kuat untuk meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang&lt;br /&gt;SMEA (Sekolah Menengah&lt;br /&gt;Ekonomi Atas, Red). Tetapi orangtuanya tak mampu&lt;br /&gt;membiayai Saraswati, bahkan&lt;br /&gt;menunggak SPP selama tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda menangkap gambaran itu dalam kehidupan nyata&lt;br /&gt;sehari-hari yang pernah&lt;br /&gt;alami di tempat kelahiran Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berangkat dari pengalaman nyata. Tokoh sintrennya&lt;br /&gt;sendiri adalah kawan&lt;br /&gt;saya. Jadi memang meskipun itu fiksi, semuanya jadi&lt;br /&gt;bagian pengalaman hidup&lt;br /&gt;saya. Kisah tersebut memang benar-benar terjadi,&lt;br /&gt;seperti yang dialami oleh&lt;br /&gt;kawan saya ketika masih duduk di bangku SMP di Batang.&lt;br /&gt;Dia dropout dari&lt;br /&gt;sekolah karena tak mampu membayar SPP. Itu realitas,&lt;br /&gt;kenyataannya memang&lt;br /&gt;demikian. Kita bisa melihat betapa kemiskinan bisa&lt;br /&gt;menghambat orang untuk&lt;br /&gt;dapat mengenyam pendidikan dengan baik. Namun dalam&lt;br /&gt;novel saya diceritakan&lt;br /&gt;bagaimana Saraswati gigih berusaha untuk tetap&lt;br /&gt;meneruskan sekolahnya, bahkan&lt;br /&gt;dengan jalan menjadi sintren. Padahal tidak semua&lt;br /&gt;orangtua di Batang itu&lt;br /&gt;merelakan anaknya jadi sintren. Saraswati berani&lt;br /&gt;menempuh apapun, termasuk&lt;br /&gt;menjadi sintren dengan resiko yang berat, asalkan ia&lt;br /&gt;tetap dapat melanjutkan&lt;br /&gt;sekolahnya. Pada akhirnya saya hendak mengatakan bahwa&lt;br /&gt;Saraswati adalah&lt;br /&gt;perempuan yang tegar dan kuat, yang tak setuju jika&lt;br /&gt;pada akhirnya perempuan&lt;br /&gt;kelak setelah menikah harus berakhir di dapur. Saya&lt;br /&gt;ingin mengatakan kalau&lt;br /&gt;perempuan itu harusnya tegar dan kuat. Tapi memang&lt;br /&gt;seringkali budaya dalam&lt;br /&gt;masyarakat kita tak mendukung hal-hal seperti&lt;br /&gt;demikian. Begitu juga di&lt;br /&gt;Batang, para orangtua lebih senang menyekolahkan anak&lt;br /&gt;lelakinya ketimbang&lt;br /&gt;anak perempuannya. Mereka percaya jika anak perempuan&lt;br /&gt;itu pada akhirnya harus&lt;br /&gt;kembali juga ke dapur. Saya masih ingat ketika masih&lt;br /&gt;remaja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tentang perempuan. Sama seperti novel-novel&lt;br /&gt;karya penulis perempuan&lt;br /&gt;lainnya. Apa yang membuat karya Anda berbeda dari yang&lt;br /&gt;lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman dari Semarang mengatakan pada saya kalau&lt;br /&gt;novel perempuan itu&lt;br /&gt;isinya paling itu-tu saja isinya. Saya ingin tidak&lt;br /&gt;seperti itu, seperti&lt;br /&gt;kebanyakan novel lain. Sejauh ini saya akan terus&lt;br /&gt;menulis tentang budaya&lt;br /&gt;lokal, sehingga karya saya berbeda dengan yang lain.&lt;br /&gt;Pokoknya saya ingin&lt;br /&gt;bicara bahwa beginilah yang saya ingin sajikan kepada&lt;br /&gt;masyarakat. Saya ingin&lt;br /&gt;mengatakan bahwa perempuan itu bukan mahluk lemah.&lt;br /&gt;Dalam novel itu kan&lt;br /&gt;disebutkan oleh si Mak Saras bahwa perempuan cukup&lt;br /&gt;bisa baca dan tulis saja,&lt;br /&gt;tokh nantinya balik ke dapur lagi. Memang kenyataannya&lt;br /&gt;demikian, di Batang&lt;br /&gt;anak perempuan selalu dinomorduakan dalam soal&lt;br /&gt;pendidikan. Orangtua di sana&lt;br /&gt;lebih suka menyekolahkan anak laki-lakinya, menata&lt;br /&gt;mereka supaya kelak hidup&lt;br /&gt;lebih baik. Sementara anak perempuan cuma diminta&lt;br /&gt;membantu orangtua&lt;br /&gt;menyelesaikan pekerjaan di rumah saja. Mereka paling&lt;br /&gt;tinggi disekolahkan&lt;br /&gt;hanya sampai SMP atau SMA saja. Dan orangtua di sana&lt;br /&gt;biasanya bangga ketika&lt;br /&gt;anak perempuannya dilamar orang kemudian menikah.&lt;br /&gt;Dengan demikian orangtua&lt;br /&gt;bisa lepas dari tanggungjawab finansial dan tak perlu&lt;br /&gt;lagi repot menjaga&lt;br /&gt;mereka karena sudah jadi tanggungjawab suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi Anda ingin mengangkat budaya lokal, tapi&lt;br /&gt;pada sisi lain Anda&lt;br /&gt;seperti menggugatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya dobrak, ingin saya buktikan kepada&lt;br /&gt;masyarakat adalah bahwa&lt;br /&gt;perempuan itu sebetulnya bisa tampil menjadi subyek,&lt;br /&gt;bukan sebagai pihak yang&lt;br /&gt;lemah saja atau pendamping suami belaka. Di kampung&lt;br /&gt;saya, dan juga mungkin di&lt;br /&gt;daerah lain di Indonesia, perempuan masih sekadar jadi&lt;br /&gt;kanca wingking (teman&lt;br /&gt;di belakang/ di dapur, Red). Mungkin itu berlaku&lt;br /&gt;sampai sekarang. Walaupun&lt;br /&gt;mereka jadi sarjana, bukan berarti saya merendahkan&lt;br /&gt;mereka, perempuan di sana&lt;br /&gt;yang ujung-ujungnya seperti yang tadi saya katakan,&lt;br /&gt;hanya jadi kanca wingking&lt;br /&gt;saja. Padahal kalau saja mereka mau, mereka bisa&lt;br /&gt;berkarya dan orang akan&lt;br /&gt;memandang mereka bukan sebagai istri atau perempuan&lt;br /&gt;biasa saja, tapi juga&lt;br /&gt;subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda melakukan penelitian untuk memperkuat&lt;br /&gt;penulisan novel itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, betul. Untuk mendapatkan data-data, saya bersusah&lt;br /&gt;payah melakukan riset&lt;br /&gt;dan melakukan wawancara kepada orang-orang yang pernah&lt;br /&gt;terlibat di dalam&lt;br /&gt;kesenian sintren. Penelitian itu saya mulai tahun&lt;br /&gt;2004. Mereka rata-rata&lt;br /&gt;sudah berusia lanjut, sudah tua, ada yang berusia 70&lt;br /&gt;tahun ke atas, bahkan&lt;br /&gt;ada yang orang yang jadi sinden panjak itu sudah pikun&lt;br /&gt;sampai-sampai saya&lt;br /&gt;bingung harus bagaimana mewawancarai&lt;br /&gt;dia...hahahaha. ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengatakan di dalam Sintren Anda meniru&lt;br /&gt;Ahmad Tohari yang menulis&lt;br /&gt;Ronggeng Dukuh Paruk. Lantas apa yang membedakan&lt;br /&gt;Sintren dengan Ronggeng-nya&lt;br /&gt;Ahmad Tohari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, ndaklah, novel punya saya berbeda dari karya&lt;br /&gt;Ahmad Tohari. Begini,&lt;br /&gt;pertama saya lahir tahun 1970-an ya, berbeda dengan&lt;br /&gt;Ahmad Tohari yang sempat&lt;br /&gt;mengalami masa-masa pergolakan pada tahun 1960-an,&lt;br /&gt;terutama 1965. Saya memang&lt;br /&gt;murni ingin mengatakan dalam sintren itu cukup tentang&lt;br /&gt;perjuangan perempuan&lt;br /&gt;saja. Memang tak ada unsur politik dalam novel&lt;br /&gt;Sintren, tidak seperti pada&lt;br /&gt;karya Ahmad Tohari. Karya saya ini tentang bagaimana&lt;br /&gt;seorang perempuan&lt;br /&gt;berjuang. Itu saja. Dan saya pikir politik tidak harus&lt;br /&gt;selalu jadi tema dalam&lt;br /&gt;sebuah novel, yang penting untuk menulis yang bagus ya&lt;br /&gt;saya harus tahu betul&lt;br /&gt;apa yang saya sedang tulis. Saya ingin novel saya lain&lt;br /&gt;dari yang lain. Ayu&lt;br /&gt;Utami semisal nulis politik dengan begini...begitu. ..&lt;br /&gt;terus ada lagi beberapa&lt;br /&gt;penulis yang menulis novel dengan tema kehidupan&lt;br /&gt;perkotaan, tapi saya tidak&lt;br /&gt;mau ikut terseret dengan tema-tema seperti demikian.&lt;br /&gt;Saya merasa jadi bagian&lt;br /&gt;dari kebudayaan lokal itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Sintren, novel apa lagi yang Anda akan dan&lt;br /&gt;sedang tulis? Apakah semua&lt;br /&gt;tak jauh-jauh dari tema kebudayaan lokal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, tiga novel saya yang belum dipublikasikan juga&lt;br /&gt;mengangkat persoalan&lt;br /&gt;kearifan lokal. Semisal pada naskah novel Weton yang&lt;br /&gt;sempat saya ikutkan&lt;br /&gt;lomba DKJ kemarin. Dalam novel itu saya menceritakan&lt;br /&gt;tentang weton&lt;br /&gt;(perhitungan hari baik di dalam masyarakat Jawa, Red),&lt;br /&gt;sekaligus mendobrak&lt;br /&gt;kenyataan bahwa weton itu tak sesuai lagi dengan zaman&lt;br /&gt;modern ini. Dan itu&lt;br /&gt;hingga kini masih dianut kuat oleh orang Jawa, untuk&lt;br /&gt;menghitung hari baik apa&lt;br /&gt;kiranya di dalam melaksanakan sesuatu, semisal&lt;br /&gt;pernikahan. Bahkan gara-gara&lt;br /&gt;weton sampai-sampai ibu dan anak berpisah, gara-gara&lt;br /&gt;weton hari lahir anaknya&lt;br /&gt;sama dengan bapaknya. Dan itu dianggap tidak membawa&lt;br /&gt;rezeki, jadi si anak&lt;br /&gt;harus harus hidup terpisah dengan orangtuanya. Dalam&lt;br /&gt;weton saya bicarakan&lt;br /&gt;soal budaya Jawa yang berakar begitu kuat,&lt;br /&gt;sampai-sampai orang pacaran pun&lt;br /&gt;batal menikah hanya karena perhitungan wetonnnya tidak&lt;br /&gt;ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kan weton itu bagian dari kearifan lokal&lt;br /&gt;masyarakat Jawa yang justru&lt;br /&gt;seharusnya Anda lestarikan juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Weton ada hal yang tidak manusiawi. Saya ingin&lt;br /&gt;mengatakan kepada&lt;br /&gt;masyarakat Jawa bahwa semua hari itu baik, jangan&lt;br /&gt;dipermasalahkan. Soalnya&lt;br /&gt;weton itu sudah banyak memakan korban, teman saya pun&lt;br /&gt;mengalami masalah&lt;br /&gt;gara-gara weton. Dia gagal menikah hanya karena&lt;br /&gt;dianggap wetonnya tidak&lt;br /&gt;cocok. Tapi juga di bagian lain, ada yang disetujui&lt;br /&gt;oleh orangtua kendati&lt;br /&gt;wetonnya tidak cocok, namun tetap dipaksakan menikah.&lt;br /&gt;Akibatnya mereka selalu&lt;br /&gt;dirundung marabahaya. Nah yang begini yang selalu&lt;br /&gt;dijadikan alasan buat&lt;br /&gt;masyarakat untuk membuktikan bahwa weton itu penting.&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak&lt;br /&gt;setuju dengan pendapat itu. Bagi saya apa yang menimpa&lt;br /&gt;mereka bukan karena&lt;br /&gt;wetonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya komentar menyikapi kondisi kesusasteraan&lt;br /&gt;Indonesia akhir-akhir ini?&lt;br /&gt;Lantas bagaimana menurut pendapat Anda menyoal&lt;br /&gt;menjamurnya komunitas sastra&lt;br /&gt;di berbagai kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya inilah sastra kita, ciri khas selalu ada.&lt;br /&gt;Keberagaman dalam&lt;br /&gt;sastra itu baik, bagus. Dan kondisi kesusasteraan&lt;br /&gt;Indonesia menurut saya&lt;br /&gt;baik-baik saja. Saya sendiri kurang berminat untuk&lt;br /&gt;bergabung dengan komunitas&lt;br /&gt;sastra, kalau ada undangan ya saya datang. Dengan&lt;br /&gt;demikian saya bisa berbagi&lt;br /&gt;dengan anggota komunitas itu. Saya lebih suka&lt;br /&gt;individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis Anda punya Ideologi gak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ya? Hahaha...Pokoknya apa yang saya tulis itu bisa&lt;br /&gt;bermanfaat, ada unsur&lt;br /&gt;nilai moralitasnya dan saya ingin apa yang saya tulis&lt;br /&gt;bisa jadi bahan&lt;br /&gt;perenungan bagi pembaca. Saya juga ingin mengedepankan&lt;br /&gt;soal perempuan dan&lt;br /&gt;juga ahlak manusia. Saya menulis tidak sekadar&lt;br /&gt;memenuhi batin saja. Saya&lt;br /&gt;ingin tulisan saya ditulis di ruangan terbuka. Saya&lt;br /&gt;ingin kita kembali kepada&lt;br /&gt;fitrahnya sastra, bahwa sastra itu karya yang bisa&lt;br /&gt;membuat orang terenyuh,&lt;br /&gt;bisa jadi peka dan memiliki pekerti yang luhur. Saya&lt;br /&gt;kepingin karya sastra&lt;br /&gt;bisa mencerahkan pembacanya, bukan sekadar sensasional&lt;br /&gt;saj ya... karena ada&lt;br /&gt;orang yang menulis hanya untuk sensasi saja. Tidak&lt;br /&gt;mencerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong Anda sebutkan contoh karya sensasional itu,&lt;br /&gt;dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak ah..saya juga ndak mau membuat sensasi&lt;br /&gt;hahahaha... saya pikir pembaca&lt;br /&gt;kita juga sudah cerdas, mereka bisa menilai sendiri&lt;br /&gt;karya mana yang seperti itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6024516567985303610-7435009237261472229?l=karamuntiang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://karamuntiang.blogspot.com/feeds/7435009237261472229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6024516567985303610&amp;postID=7435009237261472229&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7435009237261472229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6024516567985303610/posts/default/7435009237261472229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://karamuntiang.blogspot.com/2008/01/sastra-harus-kembali-ke-fitrahnya.html' title='Sastra Harus Kembali ke Fitrahnya'/><author><name>Sastra Karamuntiang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12311253747665369665</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nsMZvBzyLQA/SOn1X25dYtI/AAAAAAAAAF4/UHE8JdxzDjc/s1600-R/0302ilus.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
